Kita sekarang sedang berada dalam dunia yang dijejali oleh arus perkembangan teknologi informasi. Media sosial merupakan salah satu bukti perkembangan teknologi informasi ini. De facto, media sosial dalam domain publik selalu menampilkan wajah yang ambivalen. Ambivalensi media sosial ini menyata dalam dua factum empiris yang pada satu sisi bernuansa positif dan bernuansa negatif pada sisi lainnya.
Marshall Mc Luhan melihat media sosial sebagai perantara indera manusia untuk mendapatkan informasi tentang tempat atau orang di tempat lain dan pada waktu tertentu dalam tempo yang singkat. Habermas juga melihat media sosial sebagai ruang publik, tempat diskursus rasional, adu gagasan rasional, dan bebas represi. Singkatnya, media sosial dalam konteks ini telah memberi nutrisi positif-konstruktif bagi peradaban manusia dalam skala mondial, terutama dunia komunikasi publik. Namun pada sisi lain, kehadiran media sosial tak jarang hanya menambah daftar persoalan yang merugikan struktur peradaban manusia, terutama perubahan pola atau cara berpikir, bertutur atau berkomunikasi, dan bertindak dalam relasi sosial kemasyarakatan.
Membaca realitas konkret sekarang ini, kita menjumpai
bahwa media sosial sudah menjadi ruang persemaian diskursus irasional, seperti
hoax, ujaran kebencian, fitnah, makian, dan berbagai tindakan amoral lainnya.
Media sosial sudah jauh dari panggang api cita-cita awal sebagai tempat beradu
pendapat, lahan pendidikan nilai, dan bertukar pikiran secara rasional. Pada
tataran ini, pantaslah kita mempertanyakan kembali eksistensi kita sebagai homo
sapiens dan animale rationale. Apakah kita masih tergolong dalam
barisan manusia yang bijak, sadar, dan mampu berpikir rasional dalam pelbagai
tindakan kita setiap hari? Dari berbagai persoalan di atas, penulis hanya
berfokus pada fenomena hoax dalam media sosial.
Fenomena Hoax
Hoax merupakan suatu factum yang disebabkan oleh
sikap apatis dan rendahnya nalar kritis. Dalam bahasa Hannah Arendt,
ketidakmampuan berpikir kritis mengantar orang untuk melakukan kejahatan
termasuk menyebarkan hoax atau berita bohong. Bagi Arendt sebagaimana dikutip Yoseph Keladu
Koten (2016: 28), hoaks disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, kegagalan
menguji dan mengeksaminasi alasan-alasan. Artinya bahwa para penyebar hoaks
tidak pernah berpikir secara rasional akan ekses negatif dari tindakannya
tersebut. Kedua, obsesi buta terhadap ide atau teori. Obsesi buta
terhadap ide terkadang menjerumuskan orang pada perilaku anti dengan realitas
sekitarnya, karena sudah terobsesi dengan dunia maya. Orang sulit memisahkan
mana yang faktual dan mana yang ilusi atau imajiner. Yang paling dikedepankan
bukan rasionalitas publik yang menampung ide keadilan dan kebaikan bersama,
melainkan rasionalitas yang sarat akan parsialitas kepentingan. Ketiga, miskin
imajinasi. Kemampuan imajinasi adalah sebuah kemampuan untuk merefleksikan dan
merenungkan tindakan serta membayangkan akibat apa yang ditimbulkan setelah
melakukan suatu tindakan tertentu. Ketiadaan imajinasi menyebabkan orang sulit
berpikir dalam perspektif korban.
Apa itu Filsafat Modern?
Manusia merupakan salah satu pusat refleksi filosofis pemikiran para filsuf barat modern. Tentu ini merupakan suatu pembalikan yang radikal dari sistem filsafat sebelumnya. Filsafat Yunani menafsirkan realitas dengan titik tolak dari perspektif alam (paradigma kosmosentris) dan filsafat Abad Pertengahan bertolak dari perspektif Allah (paradigma Teosentris). Adapun bahwa pembalikan yang sedemikian radikal ini dilakukan oleh Descartes. Filsafat barat modern atau dikenal juga sebagai sejarah pemikiran modern berlangsung dari tahun 1500 sampai tahun 1800. Filsafat modern ini juga didahului humanisme dan renaisans. Faktor pemicu filsafat modern adalah revolusi ilmiah (copernicus, Kepler, Brahe, Galilei, dan Newton). Pada abad 16, ada dua aliran pemikiran dominan (Frans Ceunfin, 2003:6) yakni: Pertama, filsafat alam (Telesio dan Bruno) dan dunia sipil (Machiavelli dan Erasmus). Kedua, refleksi religius Reformasi (Luther, Calvin, Zwingli dan Melancton) dan Kontrareformasi (Caitanus, de Victoria dan Suarez). Pada abad 17, dominan persoalan metode nilai pengetahuan (Bacon dan Kant: Filsuf murni dan ilmuwan-filsuf: Descartes, Pascal dan Leibniz) dan persoalan kritik nilai pengetahuan (Rasionalisme: Descartes, Spinoza, Malembrache, dan Leibniz, dan Empirisme: Hobbes, Locke, Berkeley dan Hume). Pada abad 18, lahir filsafat pencerahan (Voltaire, Rousseau dan Wolff, dsb), Vico (filsafat sejarah), Kant (kritisisme dan filsafat Transendental), dan gerakan Romantik: reaksi atas pencerahan (Herder dan Humboldt). Akhir abad 18 dan awal abad 19, lahir idealisme: kelanjutan dari filsafat Transendental Kant (Fichte: Idealisme Etis, Schelling: Idealisme Estetis, Schleiermacher: idealisme religius dan Hegel: Idealisme Logis-historis).
Tak dapat dimungkiri bahwa filsafat barat modern memiliki peranan penting dalam lajur historis kehidupan manusia di zaman kontemporer (berlangsung dari tahun 1800 hingga kini) ini. Filsafat Barat modern telah membuka khazanah berpikir manusia-manusia kontemporer atau post-modernisme tentang pentingnya eksistensi manusia yang berakal budi.
Manusia yang berakal budi adalah manusia yang mendasari segala tindakannya dengan kekuatan akal budi yang logis dan sesuai dengan standar kebenaran universal. Artinya, tindakan yang dilakukannya dapat diterima secara objektif, karena antara apa yang dipikirkan sesuai dengan realitas konkret. Dalam bahasa Kant sebagaimana dikutip Pius Pandor (2012:131), tindakan yang benar adalah kesesuaian antara apa yang dipikirkan dengan realitas.
Dalam konteks ilmu pengetahuan, filsafat barat modern
sangat penting untuk dipelajari. Ada banyak ide-ide cemerlang dalam lanskap
pemikiran para filsuf modern yang sangat membantu kita sekarang ini, terutama
di tengah situasi dunia saat ini yang penuh dengan aneka persoalan. Tentu
mempelajari ide-ide para filsuf modern sangat tidak mungkin diakses oleh semua
masyarakat, apalagi masyarakat kelas bawah, mungkin juga kalangan atas yang
berpendidikan sekalipun. Di sini, peranan kaum cendekiawan sangat urgen. Kaum
cendekiawan (kaum terdidik) merupakan kumpulan orang yang terdidik secara
intelektual. Mahasiswa merupakan salah satu dari sekian banyak kaum cendekiawan
yang ada di sekitar kita.
Kemendesakan Peran Kaum Terdidik
Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang memiliki khazanah berpikir dan kecakapan akademis yang mumpuni. Melalui pelbagai pengetahuan yang ditimbah dalam perguruan tinggi serentak membentuk mereka menjadi agent of values dalam kehidupan masyarakat. Berhadapan dengan situasi krisis akal budi yang menyata secara gamblang dalam fenomena hoax yang berseliweran dalam media sosial, mahasiswa (siswa SMA) dengan aneka ide-ide cemerlang nan inovatif serta pengalaman pribadi dapat mengusung suatu pergerakan atau paradigma baru, yakni mereformasi akal budi masyarakat yang tidak kritis.
Artinya, mahasiswa sebagai insan intelektual harus bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat yang menjadi sasaran dari berbagai akses negatif dari media sosial terutama praktik hoax. Mahasiswa harus bisa memberikan pendidikan penyadaran dan kritis kepada masyarakat Medsos akan segala kebohongan yang terkadang tidak mereka sadari keberadaannya.
Memang di sini, kita tidak bisa menyangkal bahwa agen-agen penyebar hoaks tidak jarang dilakukan oleh orang-orang berintelektual, orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni. De facto, banyak mahasiswa menggunakan pengetahuannya untuk menjerat sesama yang tak berdaya atau gaptek (gagap teknologi), seperti menyebar berita bohong dalam media sosial dengan aneka kepentingannya masing-masing.
Berhadapan dengan situasi seperti ini, M. Hatta mengedepankan atau mempertegas kembali tugas perguruan tinggi. Tugas perguruan tinggi baginya adalah membentuk pribadi intelektual yang memiliki sense of crisis dan selalu mengembangkan dirinya. Insan intelektual yang demikian akan selalu memberi diri terhadap aneka persoalan bangsa dan selalu menggagas ide-ide kreatif dan inovatif sebagai opsi solutif di tengah maraknya praktik sosial yang menunjukkan rendahnya nalar kritis dalam berpikir. (Jefrino)








0 komentar:
Posting Komentar