Sabtu, 02 Maret 2024

QUO VADIS SEKOLAH DI TENGAH KRISIS EKOLOGIS?

Krisis ekologis sudah menjadi tantangan global. Hampir seluruh daerah di belahan dunia ini mengalami situasi krisis pada alam lingkungannya, seperti banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Di Indonesia, data statistik WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, 2024) mencatat bencana paling dominan melanda Indonesia adalah bencana krisis ekologis dengan kisaran persentase 90%, mulai dari tahun 2015–2022. Ini tentu hal yang perlu dikhawatirkan bersama. 

Di tengah situasi demikian, gagasan John Paul II tentang Etika dan Tanggung Jawab mungkin bisa direkomendasikan sebagai inspirasi solutif dan strategi menghadapi situasi ini. Mendiang John Paul II menyerukan pentingnya membangun etika kepedulian dan etika tanggung jawab berhadapan dengan alam lingkungan. Dalam Ensiklik Centesimus Annus, John Paul II melontarkan kritikan keras terhadap sikap manusia dalam memanfaatkan kekayaan alam. Manusia seharusnya menjadi kolaborator dengan Tuhan dalam karya penciptaan dan bukan mengganti kedudukan dan peran Allah. Beliau mengetengahkan perlindungan dan penyelamatan keadaan ekologi manusiawi, melindungi jenis-jenis hewan (alam) yang terancam punah. 

Secara lebih tegas, John Paul II (Centesimus Annus No. 37) mengetengahkan dimensi tanggung jawab berhadapan dengan penyalahgunaan alam. Ia menegaskan bahwa eksploitasi terhadap lingkungan adalah irasional, bertentangan dengan akal sehat, dan dilatarbelakangi oleh antropologi yang sesat, yang membawa manusia kepada persepsi bahwa alam adalah objek yang harus dieksploitasi.

Seruan apostolik John Paul II ini mengandung sebuah pesan bahwa persoalan ekologis yang melanda kehidupan manusia dewasa ini, lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Tentu, di sini terlepas dari factum kerusakan alam yang terjadi secara alamiah, misalnya gempa bumi, letusan vulkanik, dan lain-lain. Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, udara, dan seterusnya, bersumber dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli, dan hanya mementingkan diri sendiri. Ini adalah sebuah ironi dan miris, manusia merusak rumah tempat tinggalnya sendiri.

PARADIGMA ANTROPOSENTRIS

Rupa-rupanya, manusia keliru memandang alam dan keliru menempatkan dirinya dalam konteks alam semesta secara universal. Kekeliruan manusia dalam memandang alam pada galibnya bersumber dari paradigma antroposentris. Paradigma antroposentris memandang manusia sebagai pusat dari kosmos. Hanya manusia yang memiliki nilai, sementara alam lingkungan dan segala isinya hanya sebagai instrumen atau alat pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri. Paradigma antroposentris ini juga memberikan semacam legitimasi atas tindakan manusia yang merusak alam lingkungan, seperti perilaku eksploitatif terhadap alam (pertambangan), dan sebagainya.

         Hemat penulis, paradigma antroposentris menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kelahiran sistem ekonomi neoliberal yang dilakonkan oleh perusahaan multinasional (Multinastional Corporation). Sistem ekonomi neoliberal adalah sebuah sistem ekonomi yang menekankan peningkatan pada bidang perekonomian. Pada era ekonomi neoliberal ini, orang-orang yang mempunyai kepentingan, seperti para korporat atau pemilik modal berlomba-lomba bersaing demi peningkatan bidang ekonomi. Biasanya, para korporat yang memiliki modal yang mumpuni (negara maju) bekerja sama dengan perusahan-perusahan kecil, terutama di negara-negara berkembang dalam berbagai aspek kehidupan. Pada titik ini, sistem ekonomi neoliberal membawa keuntungan dalam meningkatkan perekonomian pada satu sisi. 

 Namun, pada sisi lain, sistem ekonomi neoliberal membawa dampak serius, bukan hanya terhadap alam lingkungan, melainkan seluruh tatanan kosmos termasuk kehidupan manusia. Sistem ekonomi neoliberal telah mencaplok kekayaan alam untuk kepentingan diri, meskipun menimbulkan kerusakan parah bagi alam dan kesehatan manusia. Sebagai contoh, praktik pertambangan, pembabatan hutan, dan lain-lain, yang telah banyak membawa keresahan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas pertambangan telah membawa ekses negatif, seperti polusi air, debet air berkurang, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain-lain. 

GERAKAN PEDULI EKOLOGIS BERSAMA JOHN PAUL II

         Gerakan peduli ekologis merupakan gagasan transformatif yang muncul sebagai reaksi atas situasi krisis pada alam lingkungan. Krisis ekologis mendesak seluruh penghuni dunia ini (manusia), agar mencari strategi yang kontekstual dan situasional. Gerakan peduli ekologis dalam ulasan ini terinspirasi dari Ensiklik Centesimus Annus, John Paul II. John Paul II telah mendesak semua umat manusia secara universal melalui umat Katolik, untuk membangun sebuah strategi terlibat berbasis etika kepedulian dan etika tanggung jawab dengan alam lingkungan. Etika kepedulian dan tanggung jawab atas berbagai persoalan ekologis menjadi acuan gerakan ini. Gerakan ini akan menjadi sebuah paradigma transisi baru, yaitu sebuah peralihan formasi gerakan transformatif dari palang merah menuju palang pintu. Dari pelayanan yang terlibat, karena sudah terjadi persoalan menuju pelayanan preventif atau mengatasi persoalan sebelum persoalan itu terjadi.    

QUO VADIS SEKOLAH?

Tak dapat dimungkiri, semua manusia penghuni rumah bumi ini harus terlibat langsung dalam denyut kehidupan alam yang sedang terpuruk. Persoalan ekologis adalah sebuah persoalan global yang amat serius. Oleh karena itu, tuntutan akan sebuah gerakan preventif harus menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia. Sekolah sebagai sebuah institusi formal berskala besar dan eksis berkarya di muka bumi ini, selalu dituntut tanggung jawabnya berhadapan dengan kondisi alam yang kian terancam punah ini. Tanggung jawab sekolah adalah menggerakkan seluruh elemen dunia pendidikan, agar terjun dalam situasi dunia yang sedang digandrungi krisis lingkungan. 

Melalui gerakan peduli ekologis, sekolah menggerakkan cara berpikir dan cara bertindak seluruh elemennya, agar beralih pandang dari cara berpikir dan bertindak palang merah menuju cara berpikir dan bertindak palang pintu. Cara berpikir dan bertindak palang merah menuju palang pintu, dapat diaplikasikan melalui berbagai aktivitas di lingkungan sekolah yang berkolaborasi atau bersinergi dengan dunia kehidupan yang kian mati suri ini. 

Sebagai misal, sekarang ini, hampir seluruh sekolah di Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan yang luar biasa besar kepada satuan pendidikan di mana pun, untuk mengekspresikan diri dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yang sesuai dengan kondisi, situasi, konteks, atau kebutuhan setiap sekolah. Kemerdekaan ini seharusnya menjadi saat yang paling menguntungkan, tatkala sekolah memiliki banyak peluang untuk membuat sebuah gerakan bersama, sejauh itu berdaya positif-konstruktif. Dalam hal ini, gerakan peduli ekologis bisa dilakukan melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan beragam tema untuk mencapai dimensi yang menjadi tujuan keberhasilan kegiatan projek tersebut. Selain itu, kegiatan literasi, ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan bangunan kerja sama yang baik dengan berbagai kalangan, seperti orang tua, alumni, kampus, dan lain-lain. 

Akhirnya, kita semua hampir pasti ingin memiliki rumah yang enak untuk dihuni, nyaman, indah, dan enak dipandang. Kalau memang demikian konsepnya, maka, kita pun harus berpikir dan bertindak serupa pula dengan bumi, rumah kita tinggal ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?

0 komentar:

Posting Komentar

Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus bagi Indonesia

Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dengan tema “Faith, Fraternity, Compassion,” menawarkan lebih dari sekadar dorongan spirit...