Krisis ekologis sudah
menjadi tantangan global. Hampir seluruh daerah di belahan dunia ini mengalami
situasi krisis pada alam lingkungannya, seperti banjir, tanah longsor, dan
lain-lain. Di Indonesia, data statistik WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia,
2024) mencatat bencana paling dominan melanda Indonesia adalah bencana krisis
ekologis dengan kisaran persentase 90%, mulai dari tahun 2015–2022. Ini tentu
hal yang perlu dikhawatirkan bersama.
Di tengah situasi
demikian, gagasan John Paul II tentang Etika dan Tanggung Jawab mungkin
bisa direkomendasikan sebagai inspirasi solutif dan strategi menghadapi situasi
ini. Mendiang John Paul II menyerukan pentingnya membangun etika kepedulian dan
etika tanggung jawab berhadapan dengan alam lingkungan. Dalam Ensiklik
Centesimus Annus, John Paul II melontarkan kritikan keras terhadap sikap
manusia dalam memanfaatkan kekayaan alam. Manusia seharusnya menjadi
kolaborator dengan Tuhan dalam karya penciptaan dan bukan mengganti kedudukan
dan peran Allah. Beliau mengetengahkan perlindungan dan penyelamatan keadaan
ekologi manusiawi, melindungi jenis-jenis hewan (alam) yang terancam
punah.
Secara lebih tegas, John
Paul II (Centesimus Annus No. 37) mengetengahkan dimensi tanggung jawab
berhadapan dengan penyalahgunaan alam. Ia menegaskan bahwa eksploitasi terhadap
lingkungan adalah irasional, bertentangan dengan akal sehat, dan
dilatarbelakangi oleh antropologi yang sesat, yang membawa manusia kepada
persepsi bahwa alam adalah objek yang harus dieksploitasi.
Seruan apostolik John Paul II ini mengandung sebuah pesan bahwa persoalan ekologis yang melanda kehidupan manusia dewasa ini, lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Tentu, di sini terlepas dari factum kerusakan alam yang terjadi secara alamiah, misalnya gempa bumi, letusan vulkanik, dan lain-lain. Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, udara, dan seterusnya, bersumber dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli, dan hanya mementingkan diri sendiri. Ini adalah sebuah ironi dan miris, manusia merusak rumah tempat tinggalnya sendiri.
PARADIGMA ANTROPOSENTRIS
Rupa-rupanya, manusia
keliru memandang alam dan keliru menempatkan dirinya dalam konteks alam semesta
secara universal. Kekeliruan manusia dalam memandang alam pada galibnya
bersumber dari paradigma antroposentris. Paradigma antroposentris memandang
manusia sebagai pusat dari kosmos. Hanya manusia yang memiliki nilai, sementara
alam lingkungan dan segala isinya hanya sebagai instrumen atau alat pemenuhan
kebutuhan manusia itu sendiri. Paradigma antroposentris ini juga memberikan
semacam legitimasi atas tindakan manusia yang merusak alam lingkungan, seperti
perilaku eksploitatif terhadap alam (pertambangan), dan sebagainya.
Hemat penulis, paradigma antroposentris menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan kelahiran sistem ekonomi neoliberal yang
dilakonkan oleh perusahaan multinasional (Multinastional Corporation).
Sistem ekonomi neoliberal adalah sebuah sistem ekonomi yang menekankan
peningkatan pada bidang perekonomian. Pada era ekonomi neoliberal ini,
orang-orang yang mempunyai kepentingan, seperti para korporat atau pemilik
modal berlomba-lomba bersaing demi peningkatan bidang ekonomi. Biasanya, para
korporat yang memiliki modal yang mumpuni (negara maju) bekerja sama dengan
perusahan-perusahan kecil, terutama di negara-negara berkembang dalam berbagai
aspek kehidupan. Pada titik ini, sistem ekonomi neoliberal membawa keuntungan
dalam meningkatkan perekonomian pada satu sisi.
Namun, pada sisi lain, sistem ekonomi neoliberal membawa dampak
serius, bukan hanya terhadap alam lingkungan, melainkan seluruh tatanan kosmos
termasuk kehidupan manusia. Sistem ekonomi neoliberal telah mencaplok kekayaan
alam untuk kepentingan diri, meskipun menimbulkan kerusakan parah bagi alam dan
kesehatan manusia. Sebagai contoh, praktik pertambangan, pembabatan hutan, dan
lain-lain, yang telah banyak membawa keresahan bagi masyarakat sekitar.
Aktivitas pertambangan telah membawa ekses negatif, seperti polusi air, debet
air berkurang, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain-lain.
GERAKAN PEDULI EKOLOGIS
BERSAMA JOHN PAUL II
Gerakan peduli ekologis merupakan gagasan transformatif
yang muncul sebagai reaksi atas situasi krisis pada alam lingkungan. Krisis
ekologis mendesak seluruh penghuni dunia ini (manusia), agar mencari strategi
yang kontekstual dan situasional. Gerakan peduli ekologis dalam ulasan ini
terinspirasi dari Ensiklik Centesimus Annus, John Paul II. John Paul II
telah mendesak semua umat manusia secara universal melalui umat Katolik, untuk
membangun sebuah strategi terlibat berbasis etika kepedulian dan etika tanggung
jawab dengan alam lingkungan. Etika kepedulian dan tanggung jawab atas berbagai
persoalan ekologis menjadi acuan gerakan ini. Gerakan ini akan menjadi sebuah
paradigma transisi baru, yaitu sebuah peralihan formasi gerakan transformatif
dari palang merah menuju palang pintu. Dari pelayanan yang terlibat, karena
sudah terjadi persoalan menuju pelayanan preventif atau mengatasi persoalan
sebelum persoalan itu terjadi.
QUO VADIS SEKOLAH?
Tak dapat dimungkiri,
semua manusia penghuni rumah bumi ini harus terlibat langsung dalam denyut
kehidupan alam yang sedang terpuruk. Persoalan ekologis adalah sebuah persoalan
global yang amat serius. Oleh karena itu, tuntutan akan sebuah gerakan
preventif harus menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia. Sekolah sebagai
sebuah institusi formal berskala besar dan eksis berkarya di muka bumi ini,
selalu dituntut tanggung jawabnya berhadapan dengan kondisi alam yang kian
terancam punah ini. Tanggung jawab sekolah adalah menggerakkan seluruh elemen
dunia pendidikan, agar terjun dalam situasi dunia yang sedang digandrungi
krisis lingkungan.
Melalui gerakan peduli
ekologis, sekolah menggerakkan cara berpikir dan cara bertindak seluruh
elemennya, agar beralih pandang dari cara berpikir dan bertindak palang merah
menuju cara berpikir dan bertindak palang pintu. Cara berpikir dan bertindak
palang merah menuju palang pintu, dapat diaplikasikan melalui berbagai
aktivitas di lingkungan sekolah yang berkolaborasi atau bersinergi dengan dunia
kehidupan yang kian mati suri ini.
Sebagai misal, sekarang ini, hampir seluruh sekolah di Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan yang luar biasa besar kepada satuan pendidikan di mana pun, untuk mengekspresikan diri dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yang sesuai dengan kondisi, situasi, konteks, atau kebutuhan setiap sekolah. Kemerdekaan ini seharusnya menjadi saat yang paling menguntungkan, tatkala sekolah memiliki banyak peluang untuk membuat sebuah gerakan bersama, sejauh itu berdaya positif-konstruktif. Dalam hal ini, gerakan peduli ekologis bisa dilakukan melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan beragam tema untuk mencapai dimensi yang menjadi tujuan keberhasilan kegiatan projek tersebut. Selain itu, kegiatan literasi, ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan bangunan kerja sama yang baik dengan berbagai kalangan, seperti orang tua, alumni, kampus, dan lain-lain.
Akhirnya, kita semua hampir pasti ingin memiliki rumah yang enak untuk dihuni, nyaman, indah, dan enak dipandang. Kalau memang demikian konsepnya, maka, kita pun harus berpikir dan bertindak serupa pula dengan bumi, rumah kita tinggal ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?









0 komentar:
Posting Komentar