Manggarai merupakan salah satu daerah di
Flores, NTT, yang memiliki tradisi kebudayaan yang amat kaya. Go’et merupakan salah satu dari sekian
banyak tradisi kebudayaan masyarakat Manggarai yang mengandung aneka nilai
moral. Go’et diwariskan sejak dahulu
kala melalui nenek moyang masyarakat Manggarai.
Pada umumnya, go’et dalam budaya Manggarai tidak
digunakan secara bebas. Go’et sering
digunakan dalam pembicaraan resmi atau upacara adat yang sejatinya berorientasi
untuk mendidik dan mengajar aneka kebajikan hidup kepada setiap orang Manggarai.
Go’et
juga selalu dihubungkan dengan hidup, situasi, dan persoalan hidup sehari-hari masyarakat
Manggarai. Go’et sering kali disebut sebagai
peribahasa, yang berarti ungkapan-ungkapan, pepatah, amsal, dalam bahasa Manggarai
yang kaya arti dan nilai, yang berfungsi sebagai tuntunan dalam menggerakan
manusia untuk mencapai kehidupan yang sesuai dengan norma yang baik. Ungkapan-ungkapan
ini memberikan petunjuk, model, arahan, bagi manusia Manggarai dalam menjalankan
hidupnya.
MAKNA GO’ET
Go’et merupakan simbol
kekayaan tradisi kebudayaan Manggarai yang didalamnya mengandung aneka nilai
kehidupan yang dapat membentuk kepribadian yang matang bagi setiap individu. Go’et sebagai simbol kebudayaan tersebut
telah banyak memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup masyarakat manggarai.
Melalui ungkapan kata-kata yang khas, kaya makna, dan indah, go’et bisa mengubah seluruh hidup bahkan
dunia kehidupan masyarakat luas.
Menyadari akan pentingnya keberadaan go’et dalam kehidupan, maka adalah suatu tugas utama dari semua kaum muda yang adalah insan penerus atau insan pewaris tradisi kebudayaan, untuk selalu menjaga kelestarian budaya Manggarai dan budaya kita masing-masing. Ada beberapa go’et yang akan penulis uraikan maknanya dalam tulisan ini.
“Rai Ati,
Racang Rak”
Secara
harafiah, go’et Rai Ati, Racang Rak berarti
mengasah hati dan paru-paru. Ungkapan Rai
Ati, Racang Rak secara implisit mau mengungkapkan suatu relasi hidup
manusia dengan kerjanya setiap hari. Sebagai homo faber, manusia dituntut untuk mengasah pikiran, kemauan,
perasaan, kehendak, kecekatan, keterampilan, dan keahlian melalui kerjanya. Keberhasilan
suatu pekerjaan dari setiap orang sangat bergantung dari sejauh mana ia
memanfaatkan segala macam potensi yang ada dalam dirinya. Potensi akan mudah
diaktualisasikan apabila mampu mengasahnya dengan pikiran, kehendak, dan keterampilan
yang baik.
Sasaran
utama go’et tersebut adalah untuk memacu semangat setiap orang untuk terus
berusaha dalam dirinya dengan membangun inisiatif, mengembangkan kreativitas,
dan sanggup mengatasi tantangan hidup. Pada umumnya, go’et tersebut disampaikan
oleh orang tua kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya dalam konteks
tertentu, misalnya saat berkumpul bersama dalam keluarga, saat anak akan pergi
merantau, bersekolah atau situasi lainnya yang menuntut suatu nasihat akan
pentingnya mengasah hati kita, agar menjadi pribadi yang matang dan memiliki
semangat dalam bekerja dan berusaha.
Go’et ini juga dapat membantu orang tua dalam mentrasferkan nilai-nilai moralitas kepada anak-anak atau anggota keluarganya sehingga mereka mampu semaksimal mungkin mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam memperjuangkan hidup mereka.
“Neka Anggom Le,
Anggom Lau, Eme Data, Data Muing, Neka Daku Demeng Data”
Secara
harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa jangan mengambil di sana-sini. Kalau memang milik orang lain, biarkan
tetap miliknya. Jangan menjadikan milik orang lain milikku sendiri. Go’et
di atas biasanya disampaikan oleh orang yang lebih tua atau orang yang
dipandang berwibawa dan yang didengarkan perkataannya oleh banyak orang, seperti
Tua Golo atau Tua Gendang. Setiap
orang dinasihati agar tidak diperbolehkan mengambil hak milik orang lain atau
tidak boleh melakukan pencurian yang merugikan orang lain.
Go’et ini sebenarnya hadir sebagai sindiran keras bagi setiap penguasa yang memamerkan hasil kekayaannya kepada orang lain padahal kekayaan itu diambil dari hasil keringat atau kerja keras orang lain. Go’et ini adalah oposisi dari perilaku para koruptor yang memperoleh penghasilannya dari uang rakyat.
“Nggoes Wale Oe,
Inggos Wale Io”
Secara
harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa cepat memberikan jawaban secara halus, menjawab panggilan secara halus
dan sopan. Di sini hal yang mau ditekankan adalah sikap sopan, rendah hati,
saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Adapun bahwa go’et di atas
mengandung suatu makna yang amat mendalam terutama dalam membangun relasi
dengan sesama. Go’et ini juga mengandung sebuah ajakan atau nasihat kepada
masyarakat dengan tujuan untuk menghindari perbuatan, tindakan, sikap dan
perilaku yang bertentangan dengan norma sopan santun yang berlaku dalam
masyarakat.
Dalam praktik hidup setiap hari, go’et
ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau oleh Tua Golo atau Tua Gendang atau pemimpin
adat kepada seluruh masyarakat agar bertindak sesuai norma yang berlaku,
terutama dalam membina keserasian sosial kemasyarakatan.
Ungkapan yang terimplisit dalam go’et di atas memberikan suatu penyadaran baru bagi setiap orang agar menanamkan budaya saling menghormati satu sama lain atas dasar asas kesederajatan. Dalam kehidupan setiap hari, go’et ini dipakai sebagai bentuk oposisi atau lawan dari sikap arogan dan angkuh yang tidak mengindahkan sesama disekitarnya. Singkatnya, kebersamaan yang harmonis akan tercipta apabila dalam hidup bersama ada sikap rendah hati, mau mendengarkan, mau menghargai dan menghormati sesama.
“Neka Bike Ca
Lide, Neka Behas Ca Cewak”
Secara harafiah go’et ini mengandung pengertian bahwa jangan pecah satu wadah, jangan terlepas satu dari ikatan labu air yang ditempat makan. Ungkapan ini sebenarnya mau mengekspresikan suatu harapan akan suatu kehidupan masyarakat yang tetap satu, utuh, kompak, dan rukun damai. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar tetap satu padu dalam suasana persaudaraan sejati yakni suasana yang kompakdan rukun damai. Go’et ini bukan saja diungkapkan dalam waktu-waktu khusus tapi juga bisa diungkapkan kapan saja sesuai dengan situasi setiap orang. Dalam artian kalau hal ini perlu diungkapkan maka keberadaannya bukan saja tunggu momen tertentu tapi lebih dari itu setiap suasana yang membutuhkannnya. Keberadaan go’et ini adalah agar meyadarkan seluruh masyarakat bahwa suatu kedamaian akan terwujud apabila selalu satu, dan tak terpisah-pisah satu sama lainnya.
“Neka Hemong
Kuni Agu Kalo”
Go’et
ini memiliki arti yang amat mendalam yakni
jangan lupa akan
kampung halaman dan aneka
macam kebudayaan yang ada di dalamnya. Go’et ini
biasanya disampaikan oleh orang-orang tua kepada orang-orang muda dengan maksud agar kaum muda tidak cepat jatuh ke dalam
aneka tawaran dunia yang semakin modern dengan berbagai macam kemasannya yang
sangat memukau dan menggiurkan. Kaum muda selalu diajak untuk selalu mencintai
kekhasan budayanya sendiri dan mampu mengkritisi aneka perkembangan dunia
populer yang eksistensinya bisa menghalangi perkembangan kebudayaan lokal itu sendiri.
Go’et ini biasanya dibawakan ketika masyarakat Manggarai sedang berkumpul atau acara lonto leok (acara adat Manggarai) atau juga ditunjukan kepada siapa saja yang mau merantau atau hendak keluar daerah Manggarai. Neka Hemong Kuni Agu Kalo sebenarnya menyiratkan suatu makna dimana setiap orang Manggarai dituntut untuk tidak melupakan kekayaan budayanya sendiri meskipun hidup dalam dunia yang menuntutnya untuk terus berubah di dalamnya. Orang Manggarai khususnya kaum muda yang adalah generasi penerus dari kebudayaan Manggarai dituntut untuk bersikap kritis terhadap pengaruh dari luar seperti kebudayaan populer yang eksistensinya sungguh mengancam budaya asli Manggarai.
“Neka Behas Neho
Keno”
Secara harafiah go’et ini berarti bersatulah seperti pagar. Pagar dalam
konteks ini bukanlah pagar yang kita kenal sekarang ini seperti pagar besi atau
tembok dan sebagainya. Dalam masyarakat Manggarai, pagar yang dimaksud adalah
pagar yang dibuat dari barisan batang kayu yang banyak dan diikat dengan tali.
Pagar ini bertujuan untuk menjadi pembatas kebun dan menjaga tananaman yanag
ada dalam kebun tersebut dari serangan hama binantang maupun manusia yang
hendak mencurinya. Bisa dibayangkan tatkala ada salah satu dari barisan kayu
pada pagar tersebut terlepas dari barisannya, maka yang terjadi adalah tanaman
yang ada dalam kebun tersebut akan hancur dan habis dimakan atau dicuri oleh
manusia dan binatang hutan.
Hal yang mau dikatakan disini bahwa barisan pagar yang amat kuat tersebut mau menyimbolkan persatuan masyarakat Manggarai itu sendiri. Kehidupan yang dilandasi oleh semangat persatuan yang kuat dan tidak terpecah belah akan menguatkan kehidupan masyarakat Manggarai itu sendiri terutama berhadapan dengan aneka macam musuh dengan berbagai modusnya sekarang ini. Go’et ini biasanya diberikan oleh orang-orang tua atau orang-orang yang dianggap berwibawa dan pada dasarnya pembicaraannya selalu didengarkan oleh orang banyak kepada orang-orang muda agar selalu kuat dengan suatu semangat persatuan. Persatuan itu akan kuat apabila di dalamnya selalu ada sikap saling mendukung, mengayomi dan tidak saling menjatuhkan satu sama lainnya. Go’et ini juga biasa didaraskan atau dilakukan pada saat momen khusus seperti kumpul-kumpul bersama di rumah adat atau Mbaru Gendang, penti (acara syukur panen orang Manggarai).
“Lalong Bakok Du
Lakon, Lalong Rombeng Du Kolen”
Secara
harafiah berarti ayam jantan putih waktu
pergi, ayam jantan warna-warni waktu pulang. Ungkapan dalam goet ini
biasanya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknnya yang hendak pergi
bersekolah di tempat jauh seperti ke Perguruan Tinggi dengan suatu harapan yang
amat besar yakni agar anak-anaknya bisa pulang di kemudian hari dengan membawa
sesuatu yang bermakna. Misalnya dalam konteks anak kuliah harapannya adalah
bisa membawa ijazah sarjana.
Ungkapan dalam go’et ini bisanya juga dilakukan pada saat upacara wuad wa’i yang secara harafiah memberi makan pada kaki tapi lebih dalam adalah memberi bekal kepada seseorang atau anak sebelum pergi jauh seperti sekolah (bisa bekal dalam arti uang, nasihat, motivasi dan sebagainya). Ayam jantan putih waktu pergi mau menyimbolkan kekosongan seseorang yang hendak pergi sekolah atau diibaratkan sebagai ‘kertas putih kosong’ yang dituntut untuk segera di isi oleh berbagai macam keutamaan hidup yang baik atau intelektualitas. Ayam jantan warna-warni waktu pulang mau menyimbolkan suatu harapan dari orang tua kepada anaknya agar ketika si kertas putih kosong tadi sudah terisi dengan aneka pengetahuan ia bisa kembali dengan membawa keberhasilan dan bisa mengangkat martabat keluarganya.
“Mori Bate Jari
Agu Dedek, Mori Dewa, Mori Ngaran, Mori Wowo”
Ungkapan dalam go’et ini mau mengafirmasi
keberadaan Allah yang Mahakuasa, Mahasegala yang menciptakan segala sesuatu
yang ada di atas bumi ini. Ungkapan ini mau menunjukan pujian yang dilantunkan
manusia kepada Allah karena kebesarannya yang mengatasi segala sesuatu. Allah
menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan dan hanya melalui firman atau
sabda-Nya yang amat Besar dan Mulia.
Go’et ini biasanya didaraskan oleh siapa saja dengan maksud agar setiap orang yang mendengarkannya bisa memahami eksistensi Allah yang Mahasegala dan Mahakuasa di atas segala yang ada di bumi ini. Ungkapan dalam go’et ini biasanya dilakukan saat upacara adat seperti penti (syukur panen), wuad wa’i, dan aneka acara lainnya dalam kebbudayaan Manggarai. Biasanya dalam acara adat tersebut go’et ini dimasukan dalam doa bersama sebagai tanda pujian akan Allah yang memberikan rahmat kehidupan bagi semua ciptaannya. Sebagai orang yang berbudaya, melalui go’et ini semua masyarakat Manggarai bisa menyadari diri dari mana ia berasal dan kepada siapakah segala pujian dilantunkan dan didaraskan.
Uwa Haeng Wulang, Langkas Haeng
Ntala.
Go’et ini secara harafiah berarti, bertumbuh mencapai bulan, dan bertumbuh tinggi mencapai seperti bintang. Pada umumnya, go’et ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar si anak bisa bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas dan memiliki cita-cita yang tinggi. Adapun makna dibalik go’et ini adalah supaya anak-anak bisa menggantungkan cita-citanya setinggi langit, mencapai bulan dan bintang. Go’et ini biasanya disampaikan pada saat si anak mau pergi sekolah atau mencari rezeki di tanah perantauan. Dalam kebiasaan orang Manggarai, ketika seorang anak hendak pergi sekolah atau keluar dari kampung dalam kurun waktu yang lama selalu dibuatkan acara untuk meminta doa restu dari seluruh anggota keluarga dan doa nenek moyang, sehingga pada saat itulah go’et ini disampaikan.
“Uwa gula, bok
leso”
Secara harafiah
go’et ini berati pergi pagi pulang sore.
Go’et ini biasanya disampaikan oleh
orang tua kepada seluruh anggota keluarganya agar setiap orang yang dengan
tugas dan tanggung jawabnya masing-masing pergi dari rumah pada pagi hari dan
pulang lagi ke rumah saat sore hari. Semisal orang tua yang bekerja di ladang,
biasanya mereka pergi dari rumah ke ladang atau anak pergi sekolah saat pagi
hari dan pulang ke rumah saat sore hari. Go’et
ini mengandung makna implisit bahwa setiap orang yang meninggalkan rumah entah
untuk bekerja atau kegiatan apa saja hendaknya tidak lupa pulang, karena
aktivitas selama sehari itu cukup dan tidak boleh tinggal di tempat kerja,
harus selalu pulang ke rumah. Go’et ini biasanya di ungkapkan setiap hari dan
merupakan suatu kewajiban bagi semua keluarga bagi anak, isteri atau keluarga
besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar, Iqbal Nurul. Teori-teori tentang Proverba (Peribahasa) dalam Pusat Bahasa Al Ashar.- Wordpress.com/hakikat-hakikat kemerdekaan/teori-teori-tentang-proverba, diakses pada Jumat, 10 November 2017.
Hemo, Doroteus. Ungkapan Bahasa Daerah Manggarai Provinsi NTT. Ruteng: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.
Deki, Kanisius Teobaldus. Tradisi Lisan Orang Manggarai Membidik
Persaudaraan dalam Bingkai Sastra.
Jakarta: Parrhesia Institute Jakarta, 2011.








0 komentar:
Posting Komentar