PROLOG
Revolusi industri 4.0 ditandai dengan maraknya penggunaan teknologi super canggih dengan penggunaan data yang tak terbatas (unlimited) di berbagai lini kehidupan. Perkembangan teknologi dan kecepatan informasi menjadi salah satu ciri khas revolusi industri 4.0. Dalam dunia pendidikan, revolusi industri 4.0 menjadi sebuah realitas yang menantang, khususnya bagi peran dan fungsi para pendidik. Jika peran pendidik masih berkutat seputar penyampai pengetahuan (transfer of knowledge), para pendidik akan kehilangan peran seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Peran pendidik perlahan-lahan digerus oleh hegemoni teknologi digital yang kehadirannya dianggap sebagai jawaban atas aneka persoalan yang menimpa masyarakat modern. Dalam konteks ini, revolusi industri 4.0 menantang para pendidik untuk segera mengubah cara mendidik dalam aktus belajar mengajar, agar peserta didik mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kebaikan bersama atau bonum commune.
GURU DI ERA PENDIDIKAN 4.0
Pendidikan 4.0 merupakan sebuah model pendidikan yang memanfaatkan teknologi digital (cyber system) dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi digital super canggih memungkinkan terlaksananya sebuah pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Hal ini menjadi sebuah inovasi baru dalam dunia pendidikan sekaligus menjadi kritikan pedas atas model pendidikan dan pembelajaran tradisional-konvensional yang tidak membuka peluang bagi siswa untuk berkreasi, berekspresi, bereksplorasi, dan berinovasi. Model pendidikan tradisional-konvensional menciptakan manusia minim daya kritis, minim kreasi, dan minim inovasi, sebab proses pendidikan tidak lain menjadi rutinitas pengulangan dan penyampaian informasi mengenai muatan pengetahuan yang tidak mengasah siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan kepedulian sosial.
Di samping itu, penggunaan mesin teknologi digital tidak selalu diimbangi dengan peningkatan kompetensi guru dalam mengelola kelas berbasis teknologi. Data Pustekkom Kemendikbud menunjukkan bahwa hanya 40% guru non TIK yang siap dengan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara guru dan siswa dalam pemanfaatan teknologi. Siswa merupakan generasi muda yang hidup di era milenial yang terbiasa memanfaatkan teknologi dalam keseharian hidupnya. Mereka bertumbuh bersama derasnya arus informasi dan hidup bersama teknologi komunikasi digital. Sebagai implikasinya, pola komunikasi dan manajemen pengetahuan mereka dimediasi oleh teknologi.
Dalam hal ini, guru harus mampu menunjukkan performa terbaiknya dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi diri yang selaras zaman. Guru harus bisa menciptakan sebuah model pembelajaran yang memberi kebebasan atau kemerdekaan kepada peserta didik. Mengubah paradigma mengajar menuju paradigma belajar seyogianya menjadi tugas guru yang harus diperjuangkan secara terus menerus. Namun, mengubah paradigma mengajar tidak cukup membantu guru dalam mengatasi problem era 4.0 yang begitu kompleks. Hemat saya, hal mendasar yang mesti dibuat oleh guru adalah meningkatkan kesadaran untuk belajar. Ada banyak masalah atau kendala yang dihadapi guru dewasa ini, misalnya cara mengajar yang kurang menyenangkan, minimnya penguasaan teknologi, minim kosakata pengajaran, model pengajaran dominatif-monoton, dan krisis pengetahuan. Semua kendala ini disebabkan oleh minimnya kesadaran guru untuk belajar. Oleh karena itu, kesadaran untuk belajar adalah tugas guru yang tak pernah usai. Guru harus belajar agar bisa berkompetisi di tengah hegemoni industri 4.0.
GURU PEMBELAJAR: TUGAS YANG TAK PERNAH USAI
Manusia adalah makhluk yang senantiasa belajar. Mengapa? Manusia adalah makhluk yang belum selesai diproses. Oleh karena itu, manusia harus selalu berproses agar bisa menjadi manusia seutuhnya. Menjadi manusia utuh memang menjadi problem, sebab sejatinya manusia adalah makhluk tak sempurna secara kodrati. Ketidaksempurnaan membuat manusia terus berjuang dalam hidupnya. Perjuangan merupakan potret manusia yang sadar akan ketidaksempurnaan dan memilih jalan untuk terus belajar. Kesuksesan seseorang bukan karena pemberian, melainkan buah dari petualangan hidup tanpa henti, yakni belajar. Dalam tradisi filosofis, belajar menjadi ciri khas seorang filsuf atau manusia. Belajar membawa manusia kepada kebijaksanaan.
Guru merupakan figur sentral, namun bukan satu-satunya dalam penyelenggaraan pendidikan. Guru menjadi ujung tombak dunia pendidikan dalam menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab tantangan revolusi industri 4.0. Sebenarnya, tantangan manusia era revolusi industri 4.0 bukan hanya dipengaruhi oleh kecanggihan mesin-mesin teknologi, melainkan juga disebabkan oleh mentalitas manusia 4.0 yang enggan untuk belajar. Artinya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi era 4.0 seyogianya bisa dijadikan sebagai ladang untuk belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi (learning to be) sesuatu sebagaimana tertuang dalam empat pilar pendidikan versi UNESCO. Di sini, belajar menentukan eksistensi seorang guru sebagai pembaca, pendengar, dan penulis yang baik, aktif, produktif, kreatif, inovatif, dan progresif.
Guru pembelajar adalah potret guru yang tak pernah merasa puas dan tidak merasa diri penuh dengan pengetahuan. Guru pembelajar selalu memiliki kesadaran untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi dirinya setiap saat. Biasanya, generasi pembelajar muncul dari guru yang terus belajar dan berkarya sepanjang hayat dan berkontribusi bagi kehidupan bersama. Tuti Widiastuti bahkan menandaskan bahwa, guru pembelajar adalah guru yang senantiasa terus belajar selama dia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Oleh karena itu, ketika seorang guru memutuskan untuk berhenti belajar, maka pada saat itu, dia berhenti menjadi guru atau pendidik. Hal ini memperlihatkan bahwa belajar adalah tugas dan hidup seorang guru. Namun, guru pembelajar bukan hanya belajar untuk kepentingan diri, melainkan sejauh mana mengaktualisasikan ide atau gagasan dalam pembelajaran bersama peserta didik. Pembelajaran akan menarik jika dilakonkan oleh guru pembelajar yang kritis, kreatif, dan inovatif.
Di era industri 4.0, eksistensi guru pembelajar menempati posisi yang penting. Pertama, profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang senantiasa belajar untuk mengembangkan keprofesionalitasnya secara berkelanjutan. Kedua, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menuntut guru untuk terus belajar beradaptasi dengan hal-hal baru melalui pelatihan, seminar, studi kepustakaan. Ketiga, karakter peserta didik yang berbeda setiap generasinya menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru.
EPILOG
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ciri khas era revolusi industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 berdampak pula dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran, penyelesaian tugas, dan peningkatan kompetensi guru, tak bisa lepas dari arus perkembangan revolusi industri 4.0. Guru sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan dituntut untuk siap berubah dan beradaptasi. Peran guru tak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apa pun. Sebab, guru diperlukan untuk membentuk karakter anak bangsa dalam budi pekerti, toleransi, dan nilai kebaikan. Namun, peranan guru akan semakin nampak jika guru terus belajar. Belajar menentukan eksistensi seorang guru. Guru pembelajar adalah guru yang mengetahui jati dirinya sebagai seorang pendidik yang bukan hanya berstatus sebagai pengajar, melainkan sebagai seorang pembelajar.
DAFTAR PUSTAKA
Priatna, Tedi. Disrupsi Pengembangan Sumber Daya Manusia Dunia Pendidikan
di Era Revolusi Industri 4.0. Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Sunan Gunung Djati, 2019.
Said, Ali, dkk. (eds.). Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial
Indonesia. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak
bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, 2018.
http://gtk.kemdikbud.go.id, diakses pada tanggal 27 Oktober 2021.
https://www.kompasiana.com/tutiwidiastuti, diakses pada tanggal 26 Oktober
2021.








0 komentar:
Posting Komentar