This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 Maret 2024

MAKNA GO'ET BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT MANGGARAI

 

Manggarai merupakan salah satu daerah di Flores, NTT, yang memiliki tradisi kebudayaan yang amat kaya. Go’et merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi kebudayaan masyarakat Manggarai yang mengandung aneka nilai moral. Go’et diwariskan sejak dahulu kala melalui nenek moyang masyarakat Manggarai.

Pada umumnya, go’et dalam budaya Manggarai tidak digunakan secara bebas. Go’et sering digunakan dalam pembicaraan resmi atau upacara adat yang sejatinya berorientasi untuk mendidik dan mengajar aneka kebajikan hidup kepada setiap orang Manggarai.

Go’et juga selalu dihubungkan dengan hidup, situasi, dan persoalan hidup sehari-hari masyarakat Manggarai. Go’et sering kali disebut sebagai peribahasa, yang berarti ungkapan-ungkapan, pepatah, amsal, dalam bahasa Manggarai yang kaya arti dan nilai, yang berfungsi sebagai tuntunan dalam menggerakan manusia untuk mencapai kehidupan yang sesuai dengan norma yang baik. Ungkapan-ungkapan ini memberikan petunjuk, model, arahan, bagi manusia Manggarai dalam menjalankan hidupnya.

MAKNA GO’ET

Go’et merupakan simbol kekayaan tradisi kebudayaan Manggarai yang didalamnya mengandung aneka nilai kehidupan yang dapat membentuk kepribadian yang matang bagi setiap individu. Go’et sebagai simbol kebudayaan tersebut telah banyak memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup masyarakat manggarai. Melalui ungkapan kata-kata yang khas, kaya makna, dan indah, go’et bisa mengubah seluruh hidup bahkan dunia kehidupan masyarakat luas.

Menyadari akan pentingnya keberadaan go’et dalam kehidupan, maka adalah suatu tugas utama dari semua kaum muda yang adalah insan penerus atau insan pewaris tradisi kebudayaan, untuk selalu menjaga kelestarian budaya Manggarai dan budaya kita masing-masing. Ada beberapa go’et yang akan penulis uraikan maknanya dalam tulisan ini.

Rai Ati, Racang Rak”

            Secara harafiah, go’et Rai Ati, Racang Rak berarti mengasah hati dan paru-paru. Ungkapan Rai Ati, Racang Rak secara implisit mau mengungkapkan suatu relasi hidup manusia dengan kerjanya setiap hari. Sebagai homo faber, manusia dituntut untuk mengasah pikiran, kemauan, perasaan, kehendak, kecekatan, keterampilan, dan keahlian melalui kerjanya. Keberhasilan suatu pekerjaan dari setiap orang sangat bergantung dari sejauh mana ia memanfaatkan segala macam potensi yang ada dalam dirinya. Potensi akan mudah diaktualisasikan apabila mampu mengasahnya dengan pikiran, kehendak, dan keterampilan yang baik.

Sasaran utama go’et tersebut adalah untuk memacu semangat setiap orang untuk terus berusaha dalam dirinya dengan membangun inisiatif, mengembangkan kreativitas, dan sanggup mengatasi tantangan hidup. Pada umumnya, go’et tersebut disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya dalam konteks tertentu, misalnya saat berkumpul bersama dalam keluarga, saat anak akan pergi merantau, bersekolah atau situasi lainnya yang menuntut suatu nasihat akan pentingnya mengasah hati kita, agar menjadi pribadi yang matang dan memiliki semangat dalam bekerja dan berusaha.

Go’et ini juga dapat membantu orang tua dalam mentrasferkan nilai-nilai moralitas kepada anak-anak atau anggota keluarganya sehingga mereka mampu semaksimal mungkin mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam memperjuangkan hidup mereka.

“Neka Anggom Le, Anggom Lau, Eme Data, Data Muing, Neka Daku Demeng Data”

            Secara harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa jangan mengambil di sana-sini. Kalau memang milik orang lain, biarkan tetap miliknya. Jangan menjadikan milik orang lain milikku sendiri. Go’et di atas biasanya disampaikan oleh orang yang lebih tua atau orang yang dipandang berwibawa dan yang didengarkan perkataannya oleh banyak orang, seperti Tua Golo atau Tua Gendang. Setiap orang dinasihati agar tidak diperbolehkan mengambil hak milik orang lain atau tidak boleh melakukan pencurian yang merugikan orang lain.

Go’et ini sebenarnya hadir sebagai sindiran keras bagi setiap penguasa yang memamerkan hasil kekayaannya kepada orang lain padahal kekayaan itu diambil dari hasil keringat atau kerja keras orang lain. Go’et ini adalah oposisi dari perilaku para koruptor yang memperoleh penghasilannya dari uang rakyat.

“Nggoes Wale Oe, Inggos Wale Io”

            Secara harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa cepat memberikan jawaban secara halus, menjawab panggilan secara halus dan sopan. Di sini hal yang mau ditekankan adalah sikap sopan, rendah hati, saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Adapun bahwa go’et di atas mengandung suatu makna yang amat mendalam terutama dalam membangun relasi dengan sesama. Go’et ini juga mengandung sebuah ajakan atau nasihat kepada masyarakat dengan tujuan untuk menghindari perbuatan, tindakan, sikap dan perilaku yang bertentangan dengan norma sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.

            Dalam praktik hidup setiap hari, go’et ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau oleh Tua Golo atau Tua Gendang atau pemimpin adat kepada seluruh masyarakat agar bertindak sesuai norma yang berlaku, terutama dalam membina keserasian sosial kemasyarakatan.

Ungkapan yang terimplisit dalam go’et di atas memberikan suatu penyadaran baru bagi setiap orang agar menanamkan budaya saling menghormati satu sama lain atas dasar asas kesederajatan. Dalam kehidupan setiap hari, go’et ini dipakai sebagai bentuk oposisi atau lawan dari sikap arogan dan angkuh yang tidak mengindahkan sesama disekitarnya. Singkatnya, kebersamaan yang harmonis akan tercipta apabila dalam hidup bersama ada sikap rendah hati, mau mendengarkan, mau menghargai dan menghormati sesama.

“Neka Bike Ca Lide, Neka Behas Ca Cewak”

            Secara harafiah go’et ini mengandung pengertian bahwa jangan pecah satu wadah, jangan terlepas satu dari ikatan labu air yang ditempat makan. Ungkapan ini sebenarnya mau mengekspresikan suatu harapan akan suatu kehidupan masyarakat yang tetap satu, utuh, kompak, dan rukun damai. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar tetap satu padu dalam suasana persaudaraan sejati yakni suasana yang kompakdan rukun damai. Go’et ini bukan saja diungkapkan dalam waktu-waktu khusus tapi juga bisa diungkapkan kapan saja sesuai dengan situasi setiap orang. Dalam artian kalau hal ini perlu diungkapkan maka keberadaannya bukan saja tunggu momen tertentu tapi lebih dari itu setiap suasana yang membutuhkannnya. Keberadaan go’et ini adalah agar meyadarkan seluruh masyarakat bahwa suatu kedamaian akan terwujud apabila selalu satu, dan tak terpisah-pisah satu sama lainnya.

“Neka Hemong Kuni Agu Kalo”

             Go’et ini memiliki arti yang amat mendalam yakni jangan lupa akan kampung halaman dan aneka macam kebudayaan yang ada di dalamnya. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang-orang tua kepada orang-orang muda dengan maksud agar kaum muda tidak cepat jatuh ke dalam aneka tawaran dunia yang semakin modern dengan berbagai macam kemasannya yang sangat memukau dan menggiurkan. Kaum muda selalu diajak untuk selalu mencintai kekhasan budayanya sendiri dan mampu mengkritisi aneka perkembangan dunia populer yang eksistensinya bisa menghalangi perkembangan kebudayaan lokal itu sendiri.

Go’et ini biasanya dibawakan ketika masyarakat Manggarai sedang berkumpul atau acara lonto leok (acara adat Manggarai) atau juga ditunjukan kepada siapa saja yang mau merantau atau hendak keluar daerah Manggarai. Neka Hemong Kuni Agu Kalo  sebenarnya menyiratkan suatu makna dimana setiap orang Manggarai dituntut untuk tidak melupakan kekayaan budayanya sendiri meskipun hidup dalam dunia yang menuntutnya untuk terus berubah di dalamnya. Orang Manggarai khususnya kaum muda yang adalah generasi penerus dari kebudayaan Manggarai dituntut untuk bersikap kritis terhadap pengaruh dari luar seperti kebudayaan populer yang eksistensinya sungguh mengancam budaya asli Manggarai.

“Neka Behas Neho Keno”

      Secara harafiah go’et ini berarti bersatulah seperti pagar. Pagar dalam konteks ini bukanlah pagar yang kita kenal sekarang ini seperti pagar besi atau tembok dan sebagainya. Dalam masyarakat Manggarai, pagar yang dimaksud adalah pagar yang dibuat dari barisan batang kayu yang banyak dan diikat dengan tali. Pagar ini bertujuan untuk menjadi pembatas kebun dan menjaga tananaman yanag ada dalam kebun tersebut dari serangan hama binantang maupun manusia yang hendak mencurinya. Bisa dibayangkan tatkala ada salah satu dari barisan kayu pada pagar tersebut terlepas dari barisannya, maka yang terjadi adalah tanaman yang ada dalam kebun tersebut akan hancur dan habis dimakan atau dicuri oleh manusia dan binatang hutan.

Hal yang mau dikatakan disini bahwa barisan pagar yang amat kuat tersebut mau menyimbolkan persatuan masyarakat Manggarai itu sendiri. Kehidupan yang dilandasi oleh semangat persatuan yang kuat dan tidak terpecah belah akan menguatkan kehidupan masyarakat Manggarai itu sendiri terutama berhadapan dengan aneka macam musuh dengan berbagai modusnya sekarang ini. Go’et ini biasanya diberikan oleh orang-orang tua atau orang-orang yang dianggap berwibawa dan pada dasarnya pembicaraannya selalu didengarkan oleh orang banyak kepada orang-orang muda agar selalu kuat dengan suatu semangat persatuan. Persatuan itu akan kuat apabila di dalamnya selalu ada sikap saling mendukung, mengayomi dan tidak saling menjatuhkan satu sama lainnya. Go’et ini juga biasa didaraskan atau dilakukan pada saat momen khusus seperti kumpul-kumpul bersama di rumah adat atau Mbaru Gendang, penti (acara syukur panen orang Manggarai).

“Lalong Bakok Du Lakon, Lalong Rombeng Du Kolen”

            Secara harafiah berarti ayam jantan putih waktu pergi, ayam jantan warna-warni waktu pulang. Ungkapan dalam goet ini biasanya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknnya yang hendak pergi bersekolah di tempat jauh seperti ke Perguruan Tinggi dengan suatu harapan yang amat besar yakni agar anak-anaknya bisa pulang di kemudian hari dengan membawa sesuatu yang bermakna. Misalnya dalam konteks anak kuliah harapannya adalah bisa membawa ijazah sarjana.

Ungkapan dalam go’et ini bisanya juga dilakukan pada saat upacara wuad wa’i yang secara harafiah memberi makan pada kaki tapi lebih dalam adalah memberi bekal kepada seseorang atau anak sebelum pergi jauh seperti sekolah (bisa bekal dalam arti uang, nasihat, motivasi dan sebagainya). Ayam jantan putih waktu pergi mau menyimbolkan kekosongan seseorang yang hendak pergi sekolah atau diibaratkan sebagai ‘kertas putih kosong’ yang dituntut untuk segera di isi oleh berbagai macam keutamaan hidup yang baik atau intelektualitas. Ayam jantan warna-warni waktu pulang mau menyimbolkan suatu harapan dari orang tua kepada anaknya agar ketika si kertas putih kosong tadi sudah terisi dengan aneka pengetahuan ia bisa kembali dengan membawa keberhasilan dan bisa mengangkat martabat keluarganya.

“Mori Bate Jari Agu Dedek, Mori Dewa, Mori Ngaran, Mori Wowo”

      Ungkapan dalam go’et ini mau mengafirmasi keberadaan Allah yang Mahakuasa, Mahasegala yang menciptakan segala sesuatu yang ada di atas bumi ini. Ungkapan ini mau menunjukan pujian yang dilantunkan manusia kepada Allah karena kebesarannya yang mengatasi segala sesuatu. Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan dan hanya melalui firman atau sabda-Nya yang amat Besar dan Mulia.

Go’et ini biasanya didaraskan oleh siapa saja dengan maksud agar setiap orang yang mendengarkannya bisa memahami eksistensi Allah yang Mahasegala dan Mahakuasa di atas segala yang ada di bumi ini. Ungkapan dalam go’et ini biasanya dilakukan saat upacara adat seperti penti (syukur panen), wuad wa’i, dan aneka acara lainnya dalam kebbudayaan Manggarai. Biasanya dalam acara adat tersebut go’et ini dimasukan dalam doa bersama sebagai tanda pujian akan Allah yang memberikan rahmat kehidupan bagi semua ciptaannya. Sebagai orang yang berbudaya, melalui go’et ini semua masyarakat Manggarai bisa menyadari diri dari mana ia berasal dan kepada siapakah segala pujian dilantunkan dan didaraskan.

Uwa Haeng Wulang, Langkas Haeng Ntala.

            Go’et ini secara harafiah berarti, bertumbuh mencapai bulan, dan bertumbuh tinggi mencapai seperti bintang. Pada umumnya, go’et ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar si anak bisa bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas dan memiliki cita-cita yang tinggi. Adapun makna dibalik go’et ini adalah supaya anak-anak bisa menggantungkan cita-citanya setinggi langit, mencapai bulan dan bintang. Go’et ini biasanya disampaikan pada saat si anak mau pergi sekolah atau mencari rezeki di tanah perantauan. Dalam kebiasaan orang Manggarai, ketika seorang anak hendak pergi sekolah atau keluar dari kampung dalam kurun waktu yang lama selalu dibuatkan acara untuk meminta doa restu dari seluruh anggota keluarga dan doa nenek moyang, sehingga pada saat itulah go’et ini disampaikan.

“Uwa gula, bok leso”

            Secara harafiah go’et ini berati pergi pagi pulang sore. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada seluruh anggota keluarganya agar setiap orang yang dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing pergi dari rumah pada pagi hari dan pulang lagi ke rumah saat sore hari. Semisal orang tua yang bekerja di ladang, biasanya mereka pergi dari rumah ke ladang atau anak pergi sekolah saat pagi hari dan pulang ke rumah saat sore hari. Go’et ini mengandung makna implisit bahwa setiap orang yang meninggalkan rumah entah untuk bekerja atau kegiatan apa saja hendaknya tidak lupa pulang, karena aktivitas selama sehari itu cukup dan tidak boleh tinggal di tempat kerja, harus selalu pulang ke rumah. Go’et ini biasanya di ungkapkan setiap hari dan merupakan suatu kewajiban bagi semua keluarga bagi anak, isteri atau keluarga besarnya.    

 

DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Iqbal Nurul. Teori-teori tentang Proverba (Peribahasa) dalam Pusat Bahasa Al      Ashar.-                 Wordpress.com/hakikat-hakikat kemerdekaan/teori-teori-tentang-proverba, diakses pada                          Jumat, 10 November 2017.

Hemo, Doroteus. Ungkapan Bahasa Daerah Manggarai Provinsi NTT. Ruteng: Departemen                        Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Deki, Kanisius Teobaldus. Tradisi Lisan Orang Manggarai Membidik Persaudaraan dalam                          Bingkai Sastra. Jakarta: Parrhesia Institute Jakarta, 2011.


Sabtu, 02 Maret 2024

QUO VADIS SEKOLAH DI TENGAH KRISIS EKOLOGIS?

Krisis ekologis sudah menjadi tantangan global. Hampir seluruh daerah di belahan dunia ini mengalami situasi krisis pada alam lingkungannya, seperti banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Di Indonesia, data statistik WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, 2024) mencatat bencana paling dominan melanda Indonesia adalah bencana krisis ekologis dengan kisaran persentase 90%, mulai dari tahun 2015–2022. Ini tentu hal yang perlu dikhawatirkan bersama. 

Di tengah situasi demikian, gagasan John Paul II tentang Etika dan Tanggung Jawab mungkin bisa direkomendasikan sebagai inspirasi solutif dan strategi menghadapi situasi ini. Mendiang John Paul II menyerukan pentingnya membangun etika kepedulian dan etika tanggung jawab berhadapan dengan alam lingkungan. Dalam Ensiklik Centesimus Annus, John Paul II melontarkan kritikan keras terhadap sikap manusia dalam memanfaatkan kekayaan alam. Manusia seharusnya menjadi kolaborator dengan Tuhan dalam karya penciptaan dan bukan mengganti kedudukan dan peran Allah. Beliau mengetengahkan perlindungan dan penyelamatan keadaan ekologi manusiawi, melindungi jenis-jenis hewan (alam) yang terancam punah. 

Secara lebih tegas, John Paul II (Centesimus Annus No. 37) mengetengahkan dimensi tanggung jawab berhadapan dengan penyalahgunaan alam. Ia menegaskan bahwa eksploitasi terhadap lingkungan adalah irasional, bertentangan dengan akal sehat, dan dilatarbelakangi oleh antropologi yang sesat, yang membawa manusia kepada persepsi bahwa alam adalah objek yang harus dieksploitasi.

Seruan apostolik John Paul II ini mengandung sebuah pesan bahwa persoalan ekologis yang melanda kehidupan manusia dewasa ini, lebih banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Tentu, di sini terlepas dari factum kerusakan alam yang terjadi secara alamiah, misalnya gempa bumi, letusan vulkanik, dan lain-lain. Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, udara, dan seterusnya, bersumber dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli, dan hanya mementingkan diri sendiri. Ini adalah sebuah ironi dan miris, manusia merusak rumah tempat tinggalnya sendiri.

PARADIGMA ANTROPOSENTRIS

Rupa-rupanya, manusia keliru memandang alam dan keliru menempatkan dirinya dalam konteks alam semesta secara universal. Kekeliruan manusia dalam memandang alam pada galibnya bersumber dari paradigma antroposentris. Paradigma antroposentris memandang manusia sebagai pusat dari kosmos. Hanya manusia yang memiliki nilai, sementara alam lingkungan dan segala isinya hanya sebagai instrumen atau alat pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri. Paradigma antroposentris ini juga memberikan semacam legitimasi atas tindakan manusia yang merusak alam lingkungan, seperti perilaku eksploitatif terhadap alam (pertambangan), dan sebagainya.

         Hemat penulis, paradigma antroposentris menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kelahiran sistem ekonomi neoliberal yang dilakonkan oleh perusahaan multinasional (Multinastional Corporation). Sistem ekonomi neoliberal adalah sebuah sistem ekonomi yang menekankan peningkatan pada bidang perekonomian. Pada era ekonomi neoliberal ini, orang-orang yang mempunyai kepentingan, seperti para korporat atau pemilik modal berlomba-lomba bersaing demi peningkatan bidang ekonomi. Biasanya, para korporat yang memiliki modal yang mumpuni (negara maju) bekerja sama dengan perusahan-perusahan kecil, terutama di negara-negara berkembang dalam berbagai aspek kehidupan. Pada titik ini, sistem ekonomi neoliberal membawa keuntungan dalam meningkatkan perekonomian pada satu sisi. 

 Namun, pada sisi lain, sistem ekonomi neoliberal membawa dampak serius, bukan hanya terhadap alam lingkungan, melainkan seluruh tatanan kosmos termasuk kehidupan manusia. Sistem ekonomi neoliberal telah mencaplok kekayaan alam untuk kepentingan diri, meskipun menimbulkan kerusakan parah bagi alam dan kesehatan manusia. Sebagai contoh, praktik pertambangan, pembabatan hutan, dan lain-lain, yang telah banyak membawa keresahan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas pertambangan telah membawa ekses negatif, seperti polusi air, debet air berkurang, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain-lain. 

GERAKAN PEDULI EKOLOGIS BERSAMA JOHN PAUL II

         Gerakan peduli ekologis merupakan gagasan transformatif yang muncul sebagai reaksi atas situasi krisis pada alam lingkungan. Krisis ekologis mendesak seluruh penghuni dunia ini (manusia), agar mencari strategi yang kontekstual dan situasional. Gerakan peduli ekologis dalam ulasan ini terinspirasi dari Ensiklik Centesimus Annus, John Paul II. John Paul II telah mendesak semua umat manusia secara universal melalui umat Katolik, untuk membangun sebuah strategi terlibat berbasis etika kepedulian dan etika tanggung jawab dengan alam lingkungan. Etika kepedulian dan tanggung jawab atas berbagai persoalan ekologis menjadi acuan gerakan ini. Gerakan ini akan menjadi sebuah paradigma transisi baru, yaitu sebuah peralihan formasi gerakan transformatif dari palang merah menuju palang pintu. Dari pelayanan yang terlibat, karena sudah terjadi persoalan menuju pelayanan preventif atau mengatasi persoalan sebelum persoalan itu terjadi.    

QUO VADIS SEKOLAH?

Tak dapat dimungkiri, semua manusia penghuni rumah bumi ini harus terlibat langsung dalam denyut kehidupan alam yang sedang terpuruk. Persoalan ekologis adalah sebuah persoalan global yang amat serius. Oleh karena itu, tuntutan akan sebuah gerakan preventif harus menjadi tanggung jawab seluruh umat manusia. Sekolah sebagai sebuah institusi formal berskala besar dan eksis berkarya di muka bumi ini, selalu dituntut tanggung jawabnya berhadapan dengan kondisi alam yang kian terancam punah ini. Tanggung jawab sekolah adalah menggerakkan seluruh elemen dunia pendidikan, agar terjun dalam situasi dunia yang sedang digandrungi krisis lingkungan. 

Melalui gerakan peduli ekologis, sekolah menggerakkan cara berpikir dan cara bertindak seluruh elemennya, agar beralih pandang dari cara berpikir dan bertindak palang merah menuju cara berpikir dan bertindak palang pintu. Cara berpikir dan bertindak palang merah menuju palang pintu, dapat diaplikasikan melalui berbagai aktivitas di lingkungan sekolah yang berkolaborasi atau bersinergi dengan dunia kehidupan yang kian mati suri ini. 

Sebagai misal, sekarang ini, hampir seluruh sekolah di Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan yang luar biasa besar kepada satuan pendidikan di mana pun, untuk mengekspresikan diri dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yang sesuai dengan kondisi, situasi, konteks, atau kebutuhan setiap sekolah. Kemerdekaan ini seharusnya menjadi saat yang paling menguntungkan, tatkala sekolah memiliki banyak peluang untuk membuat sebuah gerakan bersama, sejauh itu berdaya positif-konstruktif. Dalam hal ini, gerakan peduli ekologis bisa dilakukan melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan beragam tema untuk mencapai dimensi yang menjadi tujuan keberhasilan kegiatan projek tersebut. Selain itu, kegiatan literasi, ekstrakurikuler, intrakurikuler, dan bangunan kerja sama yang baik dengan berbagai kalangan, seperti orang tua, alumni, kampus, dan lain-lain. 

Akhirnya, kita semua hampir pasti ingin memiliki rumah yang enak untuk dihuni, nyaman, indah, dan enak dipandang. Kalau memang demikian konsepnya, maka, kita pun harus berpikir dan bertindak serupa pula dengan bumi, rumah kita tinggal ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus bagi Indonesia

Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dengan tema “Faith, Fraternity, Compassion,” menawarkan lebih dari sekadar dorongan spirit...