This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 04 September 2024

Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus bagi Indonesia

Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dengan tema “Faith, Fraternity, Compassion,” menawarkan lebih dari sekadar dorongan spiritual bagi umat Katolik. Kunjungan ini juga menghadirkan kesempatan penting untuk mengevaluasi dan merespon tantangan mendalam yang dihadapi negara ini. Dalam konteks multikulturalisme dan kemiskinan yang terus menjadi isu krusial, pesan Paus Fransiskus setidaknya dapat menjadi kunci, untuk memecahkan masalah-masalah besar yang mengganggu tatanan sosial Indonesia.

Indonesia, sebagai negara dengan lebih dari 1.300 suku bangsa dan berbagai agama, sering kali menghadapi ketegangan akibat perbedaan tersebut. Menurut laporan Setara Institute, kasus intoleransi agama dan kekerasan berbasis agama meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, Setara Institute melaporkan bahwa sekitar 42% dari total kasus intoleransi melibatkan tindakan kekerasan terhadap minoritas, menunjukkan betapa seriusnya ancaman terhadap harmoni sosial di Indonesia.

Membangun Jembatan di tengah Multikulturalisme dan Kemiskinan Indonesia

Pesan iman dari Paus Fransiskus, yang menekankan pentingnya dialog dan toleransi, seharusnya berfungsi sebagai pendorong, untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman yang sering kali menimbulkan ketegangan. Iman (faith), dalam perspektif ini, bukan hanya tentang keyakinan pribadi, melainkan juga tentang membangun jembatan di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Di Indonesia, di mana minoritas sering kali mengalami diskriminasi dan kekerasan, pesan ini seharusnya mendorong masyarakat, untuk berkomitmen pada dialog antaragama dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi.

Di sisi lain, pesan persaudaraan (fraternity) yang disampaikan Paus Fransiskus juga menyentuh dimensi sosial yang mendalam. Dengan lebih dari 25 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, menurut data dari Badan Pusat Statistik,  ajakan untuk bersaudara memiliki relevansi yang mendesak. Ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat mencolok; laporan World Bank menunjukkan bahwa 10% penduduk terkaya menguasai sekitar 40% kekayaan nasional, sementara banyak keluarga masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Bela rasa (compassion), seperti yang disoroti Paus Fransiskus, menuntut tindakan konkret. Dalam konteks kemiskinan di Indonesia, bela rasa bukan hanya soal kepedulian moral, melainkan juga tentang reformasi sosial yang mendalam. Ini mencakup upaya untuk meningkatkan akses ke pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi, bagi mereka yang kurang beruntung. Data dari laporan Global Poverty Monitoring menunjukkan bahwa sekitar 10% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yang menegaskan perlunya kebijakan yang lebih efektif dan inklusif.

Apa yang Mesti Kita Buat?

Paus Fransiskus telah mengingatkan kita dengan ungkapan terkenal, “Kita tidak dapat membiarkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar." Pernyataan ini menegaskan pentingnya tindakan nyata dalam mengatasi ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Dalam hal ini, langkah konkret yang harus diambil dapat berupa implementasi kebijakan yang mengurangi ketimpangan sosial, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, serta memperkuat program-program bantuan sosial, yang mendukung mereka yang paling rentan. Harapannya, melalui upaya-upaya ini, Indonesia semakin baik dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis, di mana nilai-nilai iman, persaudaraan, dan bela rasa diterjemahkan menjadi tindakan nyata, yang berdampak massif-progresif dan berdaya konstruktif.

Sumber: 

https://setara-institute.org/publication/2024/07/01/laporan-indeks-kualitas-demokrasi-dan-hak-asasi-manusia.html, diakses pada 5 September 2024.

https://www.bps.go.id/publication/2024/07/01/profil-kemiskinan-di-indonesia-2024.html, diakses pada 5 September 2024.

https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/indonesia-economic-prospects-navigating-the-new-economy-2024diakses pada 5 September 2024.

https://www.worldbank.org/en/topic/poverty/publication/global-poverty-monitoringdiakses pada 5 September 2024.

https://www.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papafrancesco_20201003nciclica-fratelli-tutti.htmldiakses pada 5 September 2024.

Senin, 12 Agustus 2024

Makna Kemerdekaan dalam Belajar dan Mengajar di Era Distraksi Digital

 

Kemerdekaan adalah kata yang memiliki makna mendalam dalam sejarah bangsa Indonesia. Makna kemerdekaan pun membias dan merasuk ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di era "Merdeka Belajar," konsep kemerdekaan ini mendapat tempat baru yang diharapkan membawa angin segar bagi transformasi pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, sejauh mana kita benar-benar merdeka dalam belajar dan mengajar di tengah derasnya arus distraksi digital yang semakin tak terbendung ini?

Merdeka Belajar: antara Idealisme dan Realisme

Program "Merdeka Belajar" yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia bertujuan memberikan kebebasan kepada pendidik dan peserta didik, dalam menentukan metode pembelajaran dan eksplorasi ilmu pengetahuan masing-masing individu. Secara teori, ini adalah sebuah langkah maju yang mengakomodasi keberagaman latar belakang siswa dan memungkinkan mereka untuk mengembangkan potensi secara maksimal. 

Namun, ada jurang yang cukup lebar antara gagasan ideal dengan realitas di lapangan. Merdeka Belajar sering kali hanya menjadi jargon tanpa implementasi yang jelas. Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih bergelut dengan masalah infrastruktur dasar, seperti ketersediaan listrik dan akses internet. Bagaimana mungkin kemerdekaan dalam belajar dapat tercapai, jika akses terhadap sumber daya pendidikan masih sangat terbatas? Di sini, kita melihat bahwa kebebasan tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai hanya menjadi ilusi.

Distraksi Digital: musuh dalam selimut Kemerdekaan Belajar

Tidak dapat dimungkiri bahwa era digital membawa banyak kemudahan dalam proses belajar dan mengajar. Akses terhadap informasi dan pengetahuan menjadi lebih mudah dan cepat. Namun, di balik kemudahan ini, ada tantangan besar yang mengancam makna sejati dari kemerdekaan belajar, yaitu distraksi digital. Distraksi secara sederhana dapat dipahami sebagai sesuatu hal yang mengalihkan perhatian (KBBI). 

Dalam konteks digitalisasi, penggunaan gawai dan internet yang seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, sering kali malah menjadi sumber distraksi yang mengalihkan fokus siswa dari tujuan utama belajar. Berapa banyak siswa yang tergoda untuk membuka media sosial, bermain game online, atau menonton video YouTube saat seharusnya mereka belajar? Bahkan, para guru pun tidak kebal dari gangguan ini. Banyak dari mereka yang terjebak dalam lautan informasi yang tidak relevan, yang justru mengurangi efektivitas pengajaran.

Ironisnya, kebebasan yang ditawarkan oleh Merdeka Belajar justru memperparah situasi ini. Tanpa pengawasan dan disiplin yang ketat, kebebasan belajar bisa berakhir menjadi kebebasan untuk terganggu. Alih-alih menjadi lebih mandiri, siswa justru kehilangan kendali atas waktu dan perhatian mereka, terjebak dalam lingkaran adiksi digital yang semakin sulit diatasi.

Dr. Larry Rosen, sebagaimana dikutip oleh Fildzah Rio (djkn.kemenkeu.go.id, 31/03/2024) menegaskan istilah-istilah khas, yang kemudian membuat manusia mudah mengalami distraksi digital. Pertama, Fear Of Missing Out (FOMO) atau takut akan ketinggalan. Dalam hal ini, ketinggalan informasi dan perkembangan terbaru. Kedua, Fear of Being Offline (FOBO) atau takut ketika tidak terkoneksi secara daring. Ketiga, Nomophobia, takut kehilangan kontak pada ponsel. 

Kecemasan-kecemasan tersebut, pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang mengalami penurunan produktivitas dan keterlibatan, baik di kantor maupun di rumah dan/atau di sekolah. Dalam hal ini, Cliford Nass dari Stanford University (Fildzah Rio, djkn.kemenkeu.go.id, 31/03/2024) pernah melakukan studi yang menunjukkan bahwa orang yang sudah terbiasa berkegiatan sambil tetap sibuk memperhatikan konten digital akan menjadi pribadi yang tidak fokus. Ada kecenderungan mereka tidak memperhatikan, mengingat, dan mengatur tugasnya dengan baik, sebagaimana halnya orang yang tetap fokus pada satu hal di satu waktu. 

Membangun Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Sepertinya, kita perlu mengadakan pendekatan yang lebih holistik dan kritis, agar kemerdekaan dalam belajar dan mengajar di era Merdeka Belajar tidak sekadar menjadi mitos. Pertama, infrastruktur pendidikan harus diperkuat. Kemerdekaan tanpa akses yang setara adalah sebuah kemunafikan. Pemerintah perlu memastikan bahwa semua sekolah, baik di kota maupun di desa, memiliki sarana yang memadai, untuk mendukung proses belajar mengajar yang optimal.

Kedua, perlu ada pendidikan literasi digital yang lebih mendalam. Siswa dan guru harus diajarkan untuk menggunakan teknologi dengan bijak, mengenali distraksi digital, dan mengembangkan disiplin diri yang kuat. Tanpa ini, kebebasan yang ditawarkan oleh teknologi hanya akan menjadi pedang bermata dua, yang lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat.

Ketiga, melakukan Detoks Digital. Detoks Digital bisa berarti waktu tanpa digital (HP, komputer, dan sejenisnya). Ini tentu hal yang sangat penting, mengingat penggunaan teknologi digital telah terbukti mengurangkan kualitas tidur, menyebabkan ketegangan mata, dan meningkatkan terjadinya sakit kepala migrain. Penelitian Everyday Health (everydayhealth.com) terhadap lebih dari 7.000 peserta menunjukkan bahwa sekitar 70% dari peserta yang menggunakan teknologi dengan layar telah mengalami ketegangan mata, akibat meningkatnya penggunaan perangkat teknologi berlayar.

Akhirnya, kita perlu kembali kepada makna sejati dari kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan bukan hanya soal kebebasan memilih, melainkan juga tanggung jawab, untuk membuat pilihan yang benar. Dalam konteks pendidikan, kemerdekaan harus diimbangi dengan disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran akan tujuan belajar yang sebenarnya.

Era Merdeka Belajar seharusnya menjadi momentum bagi kita semua, untuk merenungkan kembali makna dari kemerdekaan dalam belajar dan mengajar. Jangan sampai kemerdekaan yang kita rayakan justru menjadi bumerang yang merusak masa depan generasi muda kita. Tantangan distraksi digital adalah nyata, dan hanya dengan kesadaran kolektif serta tindakan nyata kita dapat mengatasinya, sehingga kemerdekaan dalam belajar benar-benar membawa kita menuju Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya saing.

 Tulisan ini telah diterbitkan di Surat Kabar Floresa.co, pada 20 Maret 2024.


Kamis, 13 Juni 2024

ESAI: Deinstitusionalisasi Kebenaran vs Overinstitusionalisasi Kebenaran

 

Pendidikan, sebagai pilar utama dalam pembentukan karakter dan pemahaman masyarakat, seharusnya menjadi wahana untuk mengembangkan potensi manusia. Namun, semakin kompleksnya tantangan dalam dunia pendidikan dewasa ini memunculkan bahaya yang lebih dalam daripada yang terlihat pada permukaan. Ada dua bahaya ekstrem yang sering kali dihadapkan oleh dunia pendidikan saat ini, yaitu deinstitusionalisasi dan overinstitusionalisasi. Deinstitusionalisasi mencirikan kondisi di mana struktur formal pendidikan mengalami pelemahan, sementara overinstitusionalisasi menciptakan sistem yang terlalu terpaku pada norma, protokol, dan evaluasi formal. Dalam esai ini, kita akan mengeksplorasi bahaya kedua fenomena ini, serta mencari solusi alternatif untuk merestorasi makna sejati pendidikan. Tidak hanya terbatas pada masalah deinstitusionalisasi kebenaran, tetapi juga melibatkan overinstitusionalisasi kebenaran, yang keduanya dapat merusak esensi pendidikan itu sendiri.

Deinstitusionalisasi Kebenaran

Deinstitusionalisasi kebenaran mencerminkan hilangnya otoritas dan nilai kebenaran dalam pendidikan. Dalam era di mana informasi dapat diakses dengan mudah melalui internet, otoritas tradisional seperti guru dan buku teks mulai merosot. Hal ini menciptakan situasi di mana siswa dapat mengakses informasi tanpa panduan, mengakibatkan kurangnya filter kritis dan pemahaman mendalam.

Kehilangan otoritas kebenaran dapat pula mengarah pada relativisme yang berlebihan, di mana setiap pandangan dianggap setara tanpa disaring melalui kerangka ilmiah atau moral. Akibatnya, muncul generasi yang sulit membedakan antara fakta dan opini, dan kehilangan pandangan kritis terhadap dunia di sekitar mereka. Dengan kata lain, bahaya deinstitusinalisasi kebenaran adalah relativisme kebenaran dan berdampak pada kebingungan menentukan mana yang benar dan salah, serta mana yang baik atau buruk.

Overinstitusionalisasi Kebenaran

Di sisi lain, overinstitusionalisasi kebenaran menunjukkan dominasi otoritas institusi dalam menentukan kebenaran yang seharusnya bersifat dinamis dan berkembang. Kondisi ini terjadi ketika kurikulum yang kaku dan normatif mendominasi, membatasi kebebasan intelektual dan kreativitas siswa. Pendidikan yang terlalu terpaku pada buku teks tanpa memberikan ruang untuk pemikiran kritis dan eksplorasi mandiri dapat menghasilkan generasi yang hanya mampu menghafal informasi tanpa memahaminya secara mendalam.

Selain itu, overinstitusionalisasi kebenaran juga terkait dengan prevalensi standar ujian sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan siswa. Hal ini menciptakan tekanan pada siswa untuk hanya fokus pada penghafalan dan pencapaian skor tinggi, tanpa memahami konteks atau aplikasi praktis dari pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, bahaya overinstitusionalisasi adalah absolutisme kebenaran dan berimplikasi pada fakta bahwa orang akan memilih tidak percaya karena kuatnya dominasi institusi, tidak membuka peluang untuk berpendapat.

Apa yang mesti dibuat?

Untuk mengatasi bahaya deinstitusionalisasi dan overinstitusionalisasi kebenaran, diperlukan solusi alternatif yang berfokus pada pengembangan siswa secara holistik. Pertama, perlu ditekankan bahwa pendidikan bukan hanya tentang penyerapan informasi, melainkan juga pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.

Kemudian, kurikulum harus dirancang untuk memberikan ruang bagi fleksibilitas dan diversitas. Siswa harus diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi minat mereka sendiri dan diberdayakan untuk mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang menginspirasi dan mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam.

Selain itu, penilaian terhadap keberhasilan siswa tidak boleh terbatas pada tes standar. Perlu dikembangkan bentuk evaluasi yang mencakup berbagai aspek kemampuan, seperti keterampilan interpersonal, kreativitas, dan pemecahan masalah. Ini akan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan seorang siswa untuk sukses di dunia nyata.

Dalam konteks ini, teknologi dapat menjadi alat yang berguna untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa. Penggunaan platform pembelajaran digital dan sumber daya online dapat memperkaya pengalaman belajar dan membantu siswa mengembangkan keterampilan digital yang penting di era modern.

Secara keseluruhan, penting untuk menyadari bahwa pendidikan bukanlah proses statis, melainkan proses dinamis yang terus berkembang. Melalui pendekatan yang holistik, inklusif, dan inovatif, kita dapat menghadapi bahaya deinstitusionalisasi dan overinstitusionalisasi kebenaran, menciptakan lingkungan pendidikan yang menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan.

ESAI: Perihal Belajar Tanpa Melakukan

 

Dalam era informasi modern ini, kita sering kali terpaku pada pemahaman bahwa pembelajaran hanya dapat terjadi melalui tindakan langsung, eksperimen, dan praktik. Namun, adakah mungkin untuk belajar tanpa melakukan sesuatu secara fisik? Apakah kita dapat menggali potensi besar kita melalui kebijaksanaan, refleksi, dan pengamatan tanpa harus terus-menerus terlibat dalam aksi nyata? Esai ini akan menjelajahi ide dan metode dalam seni membentuk pengetahuan dan keterampilan tanpa harus melakukan secara fisik.

Pertama-tama, mari membahas kekuatan observasi. Observasi bukanlah sekadar melihat, tetapi mencermati dengan teliti. Kita dapat belajar banyak melalui pengamatan yang mendalam terhadap orang lain, lingkungan, atau bahkan kejadian sehari-hari. Misalnya, seorang seniman dapat memahami teknik melukis hanya dengan mengamati karya seni yang ada di sekitarnya tanpa perlu menyentuh kuas sendiri. Observasi yang tepat memungkinkan kita meresapi pengetahuan tanpa harus berpartisipasi secara langsung.

Imajinasi bukan hanya domain anak-anak; itu adalah kekuatan yang dapat membentuk dunia kita tanpa tindakan fisik yang sebenarnya. Dengan memvisualisasikan proses atau hasil akhir yang diinginkan, kita dapat membentuk pemahaman dan keterampilan tanpa harus melakukan secara langsung. Para ahli olahraga sering menggunakan teknik ini dengan membayangkan setiap gerakan atau taktik sebelum melibatkan tubuh fisik mereka. Dengan cara ini, mereka memprogram pikiran mereka untuk merespons situasi seolah-olah mereka sudah melakukannya sebelumnya.

Pembelajaran tanpa melakukan juga dapat dicapai melalui refleksi. Proses ini melibatkan peninjauan diri dan pengalaman, baik itu sendiri maupun orang lain. Melalui refleksi, kita dapat mengevaluasi keputusan, tindakan, dan akibatnya tanpa harus mengulangi pengalaman tersebut. Ini memberi kita peluang untuk mengeksplorasi pemikiran mendalam dan menggali hikmah dari setiap kejadian tanpa harus mengulangi langkah-langkah yang sama.

Kebijaksanaan adalah harta yang tak ternilai dalam pembelajaran tanpa melakukan. Dengan memahami prinsip-prinsip yang telah diperoleh oleh mereka yang telah melalui pengalaman hidup, kita dapat mempersingkat kurva pembelajaran kita tanpa harus merasakan setiap pukulan dan kegagalan. Buku-buku, cerita, dan nasihat dari orang-orang bijak dapat menjadi sumber daya yang sangat berharga dalam memandu kita melalui perjalanan pembelajaran.

Dalam kehidupan yang sibuk dan serba cepat ini, seni belajar tanpa melakukan menjadi semakin relevan. Observasi yang cermat, kekuatan imajinasi, refleksi pribadi, dan kebijaksanaan dapat menjadi pilar-pilar utama dalam pendekatan ini. Meskipun tindakan fisik tetap penting, terdapat kekuatan luar biasa dalam kemampuan kita untuk belajar tanpa harus selalu melakukan sesuatu secara nyata. Oleh karena itu, mari kita libatkan diri kita dalam seni pembelajaran ini, karena terkadang, belajar sebenarnya dimulai ketika kita berhenti melakukan.

ESAI: Dari Lower Order hingga Higher Order Thinking Skills

 

Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan analitis. Salah satu tantangan utama dalam proses pembelajaran adalah bagaimana mengajarkan siswa untuk tidak hanya mengingat fakta, tetapi juga menguasai konsep dan mampu mengaplikasikannya secara kritis. Metode pancingan berpikir adalah pendekatan yang memungkinkan pembelajar untuk membangun pemahaman secara bertahap, mulai dari kemampuan berpikir dasar hingga kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Pentingnya memahami perbedaan antara lower order thinking skills (LOTS) dan higher order thinking skills (HOTS) menjadi dasar utama dalam mengimplementasikan metode pancingan berpikir. LOTS melibatkan keterampilan dasar seperti mengingat fakta, mengidentifikasi informasi, dan memahami konsep dasar. Sementara itu, HOTS melibatkan kemampuan analisis, sintesis, evaluasi, dan kreativitas. Proses pembelajaran yang efektif harus menciptakan landasan kokoh di LOTS sebelum memasuki ranah HOTS.

Metode pancingan berpikir pada tahap awal dapat dimulai dengan memberikan pertanyaan yang memerlukan pemahaman konsep dasar. Misalnya, dalam pembelajaran matematika, guru dapat mengajukan pertanyaan yang memerlukan pemahaman konsep dasar penjumlahan atau pengurangan. Siswa diarahkan untuk merinci langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut, memastikan mereka memahami proses secara menyeluruh.

Langkah selanjutnya adalah mendorong siswa untuk menerapkan konsep tersebut dalam konteks yang berbeda, memindahkan pemikiran dari LOTS ke HOTS. Contohnya, dalam mata pelajaran sains, siswa dapat diminta untuk menerapkan konsep-konsep dasar fisika untuk merancang eksperimen mereka sendiri. Proses ini mengharuskan mereka untuk menggabungkan pengetahuan dasar dengan pemikiran kreatif.

Pentingnya pancingan berpikir tidak hanya terletak pada transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi juga pada kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan yang mendalam. Guru harus menciptakan lingkungan kelas yang mendukung pertanyaan-pertanyaan reflektif dan mendorong siswa untuk menggali lebih dalam. Ini mendorong mereka untuk mengembangkan keingintahuan intrinsik dan motivasi untuk belajar lebih banyak.

Pentingnya kritis dan analitis juga tercermin dalam penilaian. Sistem penilaian harus dirancang untuk mengukur tidak hanya pemahaman konsep, tetapi juga kemampuan siswa untuk menerapkan, menganalisis, dan mensintesis informasi. Penguasaan materi tidak hanya dilihat dari seberapa banyak informasi yang dihafal, tetapi sejauh mana siswa dapat menghubungkan dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam konteks yang berbeda.

Dalam mengimplementasikan metode pancingan berpikir, peran guru menjadi kunci. Mereka tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga fasilitator pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam. Membangun kelas yang mendukung diskusi, kolaborasi, dan eksplorasi ide menjadi langkah krusial dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif.

Dengan menguasai materi melalui metode pancingan berpikir dari lower order hingga higher order thinking skills, siswa bukan hanya menjadi penerima pasif informasi, tetapi pembuat pengetahuan yang aktif dan kreatif. Proses ini tidak hanya mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan akademis, tetapi juga membentuk mereka menjadi individu yang memiliki pemikiran kritis dan analitis yang mendalam, keterampilan yang sangat penting dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Kamis, 25 April 2024

Mengajar Itu Butuh Persiapan

 

Sebagai seorang pendidik, saya menyadari bahwa persiapan sebelum mengajar bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah kunci utama untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan membangun hubungan yang positif dengan siswa. Dalam perjalanan mengajar, saya menyaksikan berbagai pandangan guru terhadap persiapan yang berkisar dari menganggapnya tidak perlu dipikirkan hingga melihatnya sebagai beban tambahan yang seharusnya dihindari. Artikel ini akan merinci pengalaman pribadi saya dan mencermati pandangan yang beragam tentang persiapan mengajar, terutama dalam konteks memahami keunikan dan latar belakang siswa.

Pertama-tama, tidak dapat disangkal bahwa beberapa guru memiliki pandangan bahwa mengajar adalah semacam transfer pengetahuan belaka. Mereka meyakini bahwa jika materi telah dipahami dengan baik oleh guru, siswa pun akan secara otomatis menerima pengetahuan tersebut. Namun, melalui pengalaman pribadi dan observasi, saya menyadari bahwa pendekatan ini tidak selalu berhasil. Siswa memiliki latar belakang dan keunikan masing-masing, yang memerlukan pendekatan yang berbeda untuk memahami dan menerima informasi.

Di sisi lain, terdapat guru yang mengeluh tentang kurangnya informasi mengenai keadaan siswa sebelumnya. Mereka merasa kesulitan menghadapi atau mengatur peserta didik karena kurangnya pemahaman mendalam tentang latar belakang siswa tersebut. Dalam refleksi ini, kita harus mengakui bahwa guru tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga pembimbing dan pemberi dukungan. Oleh karena itu, memahami latar belakang siswa tidak hanya merupakan nilai tambah, melainkan suatu keharusan.

Ada pula pandangan bahwa persiapan mengajar dianggap sebagai beban tambahan. Beberapa guru mungkin merasa terbebani oleh tuntutan kurikulum yang padat, serta tekanan untuk menyelesaikan materi dalam waktu yang singkat. Namun, perlu diingat bahwa persiapan bukan hanya tentang menyusun materi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran aktif dan kreatif.

Menyikapi guru yang mengajar dengan metode yang monoton dan tidak kreatif, kita perlu menyadari bahwa setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda. Beberapa siswa mungkin lebih responsif terhadap pembelajaran visual, sementara yang lain lebih suka pembelajaran praktis. Oleh karena itu, persiapan guru harus mencakup variasi metode pengajaran dan kreativitas dalam penyampaian materi agar dapat menjangkau keberagaman cara belajar siswa.

Sebagai kesimpulan, persiapan mengajar bukan hanya tentang menyusun materi, melainkan juga tentang memahami keunikan dan latar belakang siswa. Guru yang menganggap mengajar sebagai transfer pengetahuan belaka dapat merasa frustrasi ketika siswa tidak merespons dengan baik. Dalam pandangan yang lebih holistik, persiapan juga melibatkan pemahaman mendalam tentang siswa, menciptakan lingkungan yang mendukung, dan menyelaraskan metode pengajaran dengan keberagaman cara belajar siswa. Melalui refleksi kritis ini, diharapkan guru dapat lebih memahami pentingnya persiapan yang komprehensif dalam mencapai pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan.

 


Sabtu, 30 Maret 2024

MAKNA GO'ET BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT MANGGARAI

 

Manggarai merupakan salah satu daerah di Flores, NTT, yang memiliki tradisi kebudayaan yang amat kaya. Go’et merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi kebudayaan masyarakat Manggarai yang mengandung aneka nilai moral. Go’et diwariskan sejak dahulu kala melalui nenek moyang masyarakat Manggarai.

Pada umumnya, go’et dalam budaya Manggarai tidak digunakan secara bebas. Go’et sering digunakan dalam pembicaraan resmi atau upacara adat yang sejatinya berorientasi untuk mendidik dan mengajar aneka kebajikan hidup kepada setiap orang Manggarai.

Go’et juga selalu dihubungkan dengan hidup, situasi, dan persoalan hidup sehari-hari masyarakat Manggarai. Go’et sering kali disebut sebagai peribahasa, yang berarti ungkapan-ungkapan, pepatah, amsal, dalam bahasa Manggarai yang kaya arti dan nilai, yang berfungsi sebagai tuntunan dalam menggerakan manusia untuk mencapai kehidupan yang sesuai dengan norma yang baik. Ungkapan-ungkapan ini memberikan petunjuk, model, arahan, bagi manusia Manggarai dalam menjalankan hidupnya.

MAKNA GO’ET

Go’et merupakan simbol kekayaan tradisi kebudayaan Manggarai yang didalamnya mengandung aneka nilai kehidupan yang dapat membentuk kepribadian yang matang bagi setiap individu. Go’et sebagai simbol kebudayaan tersebut telah banyak memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup masyarakat manggarai. Melalui ungkapan kata-kata yang khas, kaya makna, dan indah, go’et bisa mengubah seluruh hidup bahkan dunia kehidupan masyarakat luas.

Menyadari akan pentingnya keberadaan go’et dalam kehidupan, maka adalah suatu tugas utama dari semua kaum muda yang adalah insan penerus atau insan pewaris tradisi kebudayaan, untuk selalu menjaga kelestarian budaya Manggarai dan budaya kita masing-masing. Ada beberapa go’et yang akan penulis uraikan maknanya dalam tulisan ini.

Rai Ati, Racang Rak”

            Secara harafiah, go’et Rai Ati, Racang Rak berarti mengasah hati dan paru-paru. Ungkapan Rai Ati, Racang Rak secara implisit mau mengungkapkan suatu relasi hidup manusia dengan kerjanya setiap hari. Sebagai homo faber, manusia dituntut untuk mengasah pikiran, kemauan, perasaan, kehendak, kecekatan, keterampilan, dan keahlian melalui kerjanya. Keberhasilan suatu pekerjaan dari setiap orang sangat bergantung dari sejauh mana ia memanfaatkan segala macam potensi yang ada dalam dirinya. Potensi akan mudah diaktualisasikan apabila mampu mengasahnya dengan pikiran, kehendak, dan keterampilan yang baik.

Sasaran utama go’et tersebut adalah untuk memacu semangat setiap orang untuk terus berusaha dalam dirinya dengan membangun inisiatif, mengembangkan kreativitas, dan sanggup mengatasi tantangan hidup. Pada umumnya, go’et tersebut disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau anggota keluarganya dalam konteks tertentu, misalnya saat berkumpul bersama dalam keluarga, saat anak akan pergi merantau, bersekolah atau situasi lainnya yang menuntut suatu nasihat akan pentingnya mengasah hati kita, agar menjadi pribadi yang matang dan memiliki semangat dalam bekerja dan berusaha.

Go’et ini juga dapat membantu orang tua dalam mentrasferkan nilai-nilai moralitas kepada anak-anak atau anggota keluarganya sehingga mereka mampu semaksimal mungkin mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam memperjuangkan hidup mereka.

“Neka Anggom Le, Anggom Lau, Eme Data, Data Muing, Neka Daku Demeng Data”

            Secara harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa jangan mengambil di sana-sini. Kalau memang milik orang lain, biarkan tetap miliknya. Jangan menjadikan milik orang lain milikku sendiri. Go’et di atas biasanya disampaikan oleh orang yang lebih tua atau orang yang dipandang berwibawa dan yang didengarkan perkataannya oleh banyak orang, seperti Tua Golo atau Tua Gendang. Setiap orang dinasihati agar tidak diperbolehkan mengambil hak milik orang lain atau tidak boleh melakukan pencurian yang merugikan orang lain.

Go’et ini sebenarnya hadir sebagai sindiran keras bagi setiap penguasa yang memamerkan hasil kekayaannya kepada orang lain padahal kekayaan itu diambil dari hasil keringat atau kerja keras orang lain. Go’et ini adalah oposisi dari perilaku para koruptor yang memperoleh penghasilannya dari uang rakyat.

“Nggoes Wale Oe, Inggos Wale Io”

            Secara harafiah, go’et di atas mengandung pengertian bahwa cepat memberikan jawaban secara halus, menjawab panggilan secara halus dan sopan. Di sini hal yang mau ditekankan adalah sikap sopan, rendah hati, saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Adapun bahwa go’et di atas mengandung suatu makna yang amat mendalam terutama dalam membangun relasi dengan sesama. Go’et ini juga mengandung sebuah ajakan atau nasihat kepada masyarakat dengan tujuan untuk menghindari perbuatan, tindakan, sikap dan perilaku yang bertentangan dengan norma sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.

            Dalam praktik hidup setiap hari, go’et ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau oleh Tua Golo atau Tua Gendang atau pemimpin adat kepada seluruh masyarakat agar bertindak sesuai norma yang berlaku, terutama dalam membina keserasian sosial kemasyarakatan.

Ungkapan yang terimplisit dalam go’et di atas memberikan suatu penyadaran baru bagi setiap orang agar menanamkan budaya saling menghormati satu sama lain atas dasar asas kesederajatan. Dalam kehidupan setiap hari, go’et ini dipakai sebagai bentuk oposisi atau lawan dari sikap arogan dan angkuh yang tidak mengindahkan sesama disekitarnya. Singkatnya, kebersamaan yang harmonis akan tercipta apabila dalam hidup bersama ada sikap rendah hati, mau mendengarkan, mau menghargai dan menghormati sesama.

“Neka Bike Ca Lide, Neka Behas Ca Cewak”

            Secara harafiah go’et ini mengandung pengertian bahwa jangan pecah satu wadah, jangan terlepas satu dari ikatan labu air yang ditempat makan. Ungkapan ini sebenarnya mau mengekspresikan suatu harapan akan suatu kehidupan masyarakat yang tetap satu, utuh, kompak, dan rukun damai. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar tetap satu padu dalam suasana persaudaraan sejati yakni suasana yang kompakdan rukun damai. Go’et ini bukan saja diungkapkan dalam waktu-waktu khusus tapi juga bisa diungkapkan kapan saja sesuai dengan situasi setiap orang. Dalam artian kalau hal ini perlu diungkapkan maka keberadaannya bukan saja tunggu momen tertentu tapi lebih dari itu setiap suasana yang membutuhkannnya. Keberadaan go’et ini adalah agar meyadarkan seluruh masyarakat bahwa suatu kedamaian akan terwujud apabila selalu satu, dan tak terpisah-pisah satu sama lainnya.

“Neka Hemong Kuni Agu Kalo”

             Go’et ini memiliki arti yang amat mendalam yakni jangan lupa akan kampung halaman dan aneka macam kebudayaan yang ada di dalamnya. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang-orang tua kepada orang-orang muda dengan maksud agar kaum muda tidak cepat jatuh ke dalam aneka tawaran dunia yang semakin modern dengan berbagai macam kemasannya yang sangat memukau dan menggiurkan. Kaum muda selalu diajak untuk selalu mencintai kekhasan budayanya sendiri dan mampu mengkritisi aneka perkembangan dunia populer yang eksistensinya bisa menghalangi perkembangan kebudayaan lokal itu sendiri.

Go’et ini biasanya dibawakan ketika masyarakat Manggarai sedang berkumpul atau acara lonto leok (acara adat Manggarai) atau juga ditunjukan kepada siapa saja yang mau merantau atau hendak keluar daerah Manggarai. Neka Hemong Kuni Agu Kalo  sebenarnya menyiratkan suatu makna dimana setiap orang Manggarai dituntut untuk tidak melupakan kekayaan budayanya sendiri meskipun hidup dalam dunia yang menuntutnya untuk terus berubah di dalamnya. Orang Manggarai khususnya kaum muda yang adalah generasi penerus dari kebudayaan Manggarai dituntut untuk bersikap kritis terhadap pengaruh dari luar seperti kebudayaan populer yang eksistensinya sungguh mengancam budaya asli Manggarai.

“Neka Behas Neho Keno”

      Secara harafiah go’et ini berarti bersatulah seperti pagar. Pagar dalam konteks ini bukanlah pagar yang kita kenal sekarang ini seperti pagar besi atau tembok dan sebagainya. Dalam masyarakat Manggarai, pagar yang dimaksud adalah pagar yang dibuat dari barisan batang kayu yang banyak dan diikat dengan tali. Pagar ini bertujuan untuk menjadi pembatas kebun dan menjaga tananaman yanag ada dalam kebun tersebut dari serangan hama binantang maupun manusia yang hendak mencurinya. Bisa dibayangkan tatkala ada salah satu dari barisan kayu pada pagar tersebut terlepas dari barisannya, maka yang terjadi adalah tanaman yang ada dalam kebun tersebut akan hancur dan habis dimakan atau dicuri oleh manusia dan binatang hutan.

Hal yang mau dikatakan disini bahwa barisan pagar yang amat kuat tersebut mau menyimbolkan persatuan masyarakat Manggarai itu sendiri. Kehidupan yang dilandasi oleh semangat persatuan yang kuat dan tidak terpecah belah akan menguatkan kehidupan masyarakat Manggarai itu sendiri terutama berhadapan dengan aneka macam musuh dengan berbagai modusnya sekarang ini. Go’et ini biasanya diberikan oleh orang-orang tua atau orang-orang yang dianggap berwibawa dan pada dasarnya pembicaraannya selalu didengarkan oleh orang banyak kepada orang-orang muda agar selalu kuat dengan suatu semangat persatuan. Persatuan itu akan kuat apabila di dalamnya selalu ada sikap saling mendukung, mengayomi dan tidak saling menjatuhkan satu sama lainnya. Go’et ini juga biasa didaraskan atau dilakukan pada saat momen khusus seperti kumpul-kumpul bersama di rumah adat atau Mbaru Gendang, penti (acara syukur panen orang Manggarai).

“Lalong Bakok Du Lakon, Lalong Rombeng Du Kolen”

            Secara harafiah berarti ayam jantan putih waktu pergi, ayam jantan warna-warni waktu pulang. Ungkapan dalam goet ini biasanya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknnya yang hendak pergi bersekolah di tempat jauh seperti ke Perguruan Tinggi dengan suatu harapan yang amat besar yakni agar anak-anaknya bisa pulang di kemudian hari dengan membawa sesuatu yang bermakna. Misalnya dalam konteks anak kuliah harapannya adalah bisa membawa ijazah sarjana.

Ungkapan dalam go’et ini bisanya juga dilakukan pada saat upacara wuad wa’i yang secara harafiah memberi makan pada kaki tapi lebih dalam adalah memberi bekal kepada seseorang atau anak sebelum pergi jauh seperti sekolah (bisa bekal dalam arti uang, nasihat, motivasi dan sebagainya). Ayam jantan putih waktu pergi mau menyimbolkan kekosongan seseorang yang hendak pergi sekolah atau diibaratkan sebagai ‘kertas putih kosong’ yang dituntut untuk segera di isi oleh berbagai macam keutamaan hidup yang baik atau intelektualitas. Ayam jantan warna-warni waktu pulang mau menyimbolkan suatu harapan dari orang tua kepada anaknya agar ketika si kertas putih kosong tadi sudah terisi dengan aneka pengetahuan ia bisa kembali dengan membawa keberhasilan dan bisa mengangkat martabat keluarganya.

“Mori Bate Jari Agu Dedek, Mori Dewa, Mori Ngaran, Mori Wowo”

      Ungkapan dalam go’et ini mau mengafirmasi keberadaan Allah yang Mahakuasa, Mahasegala yang menciptakan segala sesuatu yang ada di atas bumi ini. Ungkapan ini mau menunjukan pujian yang dilantunkan manusia kepada Allah karena kebesarannya yang mengatasi segala sesuatu. Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan dan hanya melalui firman atau sabda-Nya yang amat Besar dan Mulia.

Go’et ini biasanya didaraskan oleh siapa saja dengan maksud agar setiap orang yang mendengarkannya bisa memahami eksistensi Allah yang Mahasegala dan Mahakuasa di atas segala yang ada di bumi ini. Ungkapan dalam go’et ini biasanya dilakukan saat upacara adat seperti penti (syukur panen), wuad wa’i, dan aneka acara lainnya dalam kebbudayaan Manggarai. Biasanya dalam acara adat tersebut go’et ini dimasukan dalam doa bersama sebagai tanda pujian akan Allah yang memberikan rahmat kehidupan bagi semua ciptaannya. Sebagai orang yang berbudaya, melalui go’et ini semua masyarakat Manggarai bisa menyadari diri dari mana ia berasal dan kepada siapakah segala pujian dilantunkan dan didaraskan.

Uwa Haeng Wulang, Langkas Haeng Ntala.

            Go’et ini secara harafiah berarti, bertumbuh mencapai bulan, dan bertumbuh tinggi mencapai seperti bintang. Pada umumnya, go’et ini disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar si anak bisa bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas dan memiliki cita-cita yang tinggi. Adapun makna dibalik go’et ini adalah supaya anak-anak bisa menggantungkan cita-citanya setinggi langit, mencapai bulan dan bintang. Go’et ini biasanya disampaikan pada saat si anak mau pergi sekolah atau mencari rezeki di tanah perantauan. Dalam kebiasaan orang Manggarai, ketika seorang anak hendak pergi sekolah atau keluar dari kampung dalam kurun waktu yang lama selalu dibuatkan acara untuk meminta doa restu dari seluruh anggota keluarga dan doa nenek moyang, sehingga pada saat itulah go’et ini disampaikan.

“Uwa gula, bok leso”

            Secara harafiah go’et ini berati pergi pagi pulang sore. Go’et ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada seluruh anggota keluarganya agar setiap orang yang dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing pergi dari rumah pada pagi hari dan pulang lagi ke rumah saat sore hari. Semisal orang tua yang bekerja di ladang, biasanya mereka pergi dari rumah ke ladang atau anak pergi sekolah saat pagi hari dan pulang ke rumah saat sore hari. Go’et ini mengandung makna implisit bahwa setiap orang yang meninggalkan rumah entah untuk bekerja atau kegiatan apa saja hendaknya tidak lupa pulang, karena aktivitas selama sehari itu cukup dan tidak boleh tinggal di tempat kerja, harus selalu pulang ke rumah. Go’et ini biasanya di ungkapkan setiap hari dan merupakan suatu kewajiban bagi semua keluarga bagi anak, isteri atau keluarga besarnya.    

 

DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Iqbal Nurul. Teori-teori tentang Proverba (Peribahasa) dalam Pusat Bahasa Al      Ashar.-                 Wordpress.com/hakikat-hakikat kemerdekaan/teori-teori-tentang-proverba, diakses pada                          Jumat, 10 November 2017.

Hemo, Doroteus. Ungkapan Bahasa Daerah Manggarai Provinsi NTT. Ruteng: Departemen                        Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Deki, Kanisius Teobaldus. Tradisi Lisan Orang Manggarai Membidik Persaudaraan dalam                          Bingkai Sastra. Jakarta: Parrhesia Institute Jakarta, 2011.


Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus bagi Indonesia

Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dengan tema “Faith, Fraternity, Compassion,” menawarkan lebih dari sekadar dorongan spirit...